Menemukan cahaya dalam kegelapan

https://treeoflifenaples.files.wordpress.com/2010/08/light-in-darkness.jpg

Dulu banget saat pergantian tahun 2012 ke 2013, ada sebuah masalah berat yang menimpa hidup gue. Walaupun lagi-lagi, berat atau tidaknya masalah itu relatif bagi setiap orang. Tapi bagi gue tahun-tahun itu adalah masalah berat untuk gue..

Tahun-tahun berjalan, perlahan gue mulai menemukan passion, pekerjaan yang gue sukai dan alhamdulillah pekerjaan-pekerjaan gue lancar dan ada sedikit prestasi πŸ˜‰

Namun, pada rentang bulan agustus-september 2016, adalah bulan-bulan tergelap dalam hidup gue, hahaha..

Memasuki lorong gelap

Darkness is not enemy of light, both of them completed each other

Saat memasuki episode gelap dalam hidup, pasti rasanya ga enak. Begitu juga dengan apa yang gue alami. Kalau ada lagunya Peter Pan yang berjudul “Khayalan Tingkat Tinggi”, gue akan menyanyi dengan lagu “galau tingkat tinggi” haha..

Pernah gue menulis juga yang serupa seperti ini saat tahun 2013. Gue lupa persis tanggalnya, ya mungkin sekedar gue me-review kembali apa yang sudah gue pelajari dan gue alami

Darkness is natural as well as light.. Like the sun rises every morning and sun set every evening.. everything is natural

Banyak yang gak suka dengan kegelapan, well.. gue juga.. Dan gue ga pernah mau yang namanya masuk ke dalam episode kegelapan dalam hidup (baca : kegagalan, permasalahan, etc). Namun sebagaimana cahaya yang berasal dari cahaya matahari saat pagi dan gelapnya dunia saat malam hari, memberikan pesan.. cahaya dan gelap adalah dua hal yang alamiah dalam kehidupan πŸ˜‰

Berhasil, sukses, pujian adalah satu sisi kehidupan yang sangat disukai oleh banyak orang. Ya, termasuk gue-lah, hehe.. Dan gue pun sangat ingin mendapatkan semua itu (baca : gula-gula kehidupan). Hanya suatu saat dalam perputaran karma kehidupan, ada kalanya gelap itu datang. Suka atau enggak, cepat atau lambat pasti gelap akan datang dalam hidup kita.

Sesederhana mentari yang terbit pasti akan tenggelam. Daun yang hijau di pohon, cepat atau lambat akan menguning lalu jatuh ke tanah. Bunga pun demikian, ada kalanya bunga menguncup lalu kemudian mekar dan akhirnya bunga akan berguguran ke tanah.

Everything in this life is impermanent.. The effort to make impermanent become permanent is the core of suffering

Menyalakan lilin kesadaran diri

Saat kita memasuki lorong gelap kehidupan, jangan lari.. Lari akan membuat diri semakin tersesat dalam lorong kegelapan. Jangan pula menyalahkan orang yang ada di sekeliling kita. Kenapa ? Karena kondisi lagi gelap, kita tidak bisa dengan jelas melihat orang di sekeliling kita secara psikologis.

Jangan pula meninju, melempar sapu, atau benda apapun ke dalam lorong kegelapan. Karena apa ? Semua usaha yang dilakukan untuk melawan kegelapan adalah sia-sia..

Tidak perlu melawan saat memasuki lorong ini, mengutuk apalagi menyalahkan siapapun. Ini adalah perputaran takdir yang sudah sempurna, terima, enjoy dan mengalir dalam episode kegelapan ini πŸ˜‰

Saat kita menerima semua hal yang terjadi dalam hidup kita. Perlahan, lilin kesadaran akan mulai menyala dan kita dapat menyusuri lorong gelap dengan sedikit cahaya dari kesadaran diri

Keluarga adalah api kehangatan

Tatkala lilin kesadaran sudah menyala, langkah berikutnya adalah kembali ke rumah yang bernama keluarga. Peluk istri, anak, diskusi dengan orang tua. Hal-hal ini akan membuat api kehangatan mulai menyala. Untuk memperbesar api kehangatan, sahabat pun bisa menjadi alternatif untuk memperkuat nyala api..

Tapi ingat, jangan terlalu besar apinya, bukan menerangi nanti bisa membakar. Curhat ke istri boleh tapi jangan berlebihan. Begitu pula diskusi dengan ortu atau sahabat, boleh tapi jangan kebanyakan haha..

Karena sudah memasuki ruang publik, kita harus sesadar-sadarnya untuk tahu batas dalam menyampaikan sesuatu. Sehingga api kehangatan tidak berubah menjadi kebakaran πŸ˜‰

Membuka gerbang cahaya

Saat lilin kesadaran diri sudah menyala, api keluarga sudah mulai menghangatkan.. Sekarang saatnya untuk membuka gerbang cahaya di lorong kegelapan ini. Ada dua pendekatan :

  1. Membuka gerbang cahaya melalui ‘guru’ yang ada di dalam
  2. Berdoa kepada Tuhan untuk membukakan pintu cahaya

Pada pendekatan yang pertama, agak sulit karena membutuhkan pengetahuan spiritual yang sudah cukup. Tidak harus banyak namun setidaknya paham dengan maksud guru yang ada di dalam.

Pada pendekatan yang kedua, lebih universal. Karena berdoa mudah dilakukan namun sulit untuk memaknai berdoa kepada Tuhan untuk membukakan pintu cahaya. Jalannya pun untuk setiap orang dapat berbeda-beda. Ada yang menggunakan nomor 1 & 2, ada yang cukup no.2 saja dan ada yang hanya no.1 saja..

Manapun jalan yang dipilih, silahkan membuka gerbang cahaya yang sudah ada di depan mata πŸ˜‰

Sumber gambar : https://treeoflifenaples.wordpress.com/2010/08/23/a-light-in-the-darkness/

 

Hakikat kehidupan part (1)

Image result for perjalanan

Well, sudah satu bulan yang lalu gue mendapatkan permasalahan yang berat. Alhamdulillah sekarang sudah selesai dan kembali normal. Lagi-lagi gue ditolong sama Tuhan saat gue harus melewati persimpangan ‘berbahaya’ dalam hidup..

Menemukan makna kehidupan

Sejak gue bekerja di perusahaan dan kembali menjadi mahasiswa. Ada banyak hal yang mulai terlewati dalam setiap ‘episode’ kehidupan.. Ya, bekerja cenderung monoton, team work, by system, etc.. intinya adalah setiap proses usaha selalu didukung oleh banyak orang, system dan management. Well, gue bisa katakan.. gue ga menemukan permasalahan yang sangat substansial saat gue bekerja di perusahaan.

Lain halnya, ketika gue belajar di kampus.. Jreng.. jreng.. semuanya berubah. Gue sekarang single fighter menghadapi rumitnya proses riset dan ketidakpastian yang tinggi. Lantas gue pun terhanyut ke dalam ketidakpastian yang tinggi.

Dan disinilah permasalahan gue dimulai, gue terbiasa oleh sistem, integrated management, nah ketika terjun ke dunia riset. Gue agak terkejut broh, haha..

Everything is good, whether it is good or bad event, they come to you for ‘Higher Purpose”

Memahami setiap kejadian dalam hidup

Well, perlahan-lahan gue pun mulai beradaptasi dengan situasi yang terjadi saat ini. Namun tetap karena riset gue sekarang skala besar, gue coba untuk membentuk tim survey untuk meminimalisir overwork dan single fighter tadi πŸ˜‰

Sudah lama, gue meninggalkan dunia spiritualitas. Sebenarnya ga meninggalkan banget sih, cuma gue ga punya waktu untuk membaca, meditasi dan merenungkan hakikat kehidupan. Ya, pekerjaan membuat semuanya menjadi rutin dan tidak ada hal yang dapat digali dari kehidupan..

Namun semua berubah saat gue sekolah, muncul masalah di sana-sini, permasalahan kehidupan yang datang silih berganti. Situasi ini membuat gue harus kembali lagi mempelajari tentang hakikat, spiritualitas dan Tuhan.. jadilah tulisan-tulisan ini kembali mengalir..

Even in the worst condition, do not run. Just keep still and silence. If you do so, life will show the hidden treasure..

Membuka gerbang keheningan

Dan seketika, di saat semua masalah datang silih berganti. Gue pun menyerah, ya menyerah atas semua tamu kehidupan yang bernama masalah. Alih-alih gue melarikan diri, gue diam saja. Ya, diam dan hening..

Setelah lama gue tinggalkan kebiasaan meditasi, gue mulai kembali meditasi. Sudah lama gue ga baca buku-buku spiritual, gue kembali membaca buku-buku spiritualitas. Dan gue mencoba untuk memahami makna di balik kehidupan gue ini..

Perlahan namun pasti, gerbang keheningan yang pernah gue tinggalkan sejak lama kini kembali terbuka.. rangkaian kebetulan dalam kehidupan sudah mulai dapat terbaca kembali..

Ya, selamat datang di gerbang keheningan, semoga diujung sama gue dapat berjumpa dengan Diri Sejati πŸ˜‰

Sumber gambar : permanalukman27.wordpress.com

Syariat – thariqat – hakikat – ma’rifat – berserah diri

Rojyk5jr

Banyak sekali jalan yang dapat dipilih oleh manusia dalam hidup ini. Ada yang memilih jalan baik atau buruk. Disini tidak akan diberikan label atau judgement apapun tentang pilihan jalan hidup masing-masing. Karena setiap orang sedang bertumbuh dengan jalan yang dipilihnya masing-masing.

Selain itu, kitab suci sudah menyatakan hukum keseimbangan yang tidak akan berubah sampai kapanpun, perbuatan baik akan dibalas kebaikan dan begitu pula sebaliknya πŸ˜‰

Mencari sebuah jalan

Pada hakikatnya manusia dilahirkan dari sebuah ketiadaan lalu menjadi ada. Proses ketiadaan menjadi ada melalui sebuah proses penciptaan dalam rahim seorang wanita. Penyatuan dua kutub yang saling berlawanan (maskulin dan feminim), (sperma dan ovum), lantas menjadi sesuatu yang disebut janin, dan seterusnya..

Lahirlah seorang sosok yang bernama manusia ke dalam hidup ini. Lantas ia menjadi anak kecil, remaja, dewasa, tua dan kembali lagi kepada hakikat awalnya, tiada.

Proses manusia menjalani setiap tingkatan demi tingkatan dalam hidup melalui berbagai proses yang sifatnya sebab akibat (baca : memang sewajarnya seperti itu). Bagi yang mau makan, harus mencari makan bisa dengan berkebun, berburu binatang, memancing ikan, atau seperti yang dilakukan oleh manusia modern, membeli sesuatu dengan uang.

Kalau mau pintar ya belajar, tapi ada juga orang yang belajar tidak pintar-pintar. Ini bukan karena proses sebab akibatnya yang tidak tepat melainkan ada sesuatu yang memang diluar hukum sebab akibat ini. Namun bisa dikatakan sebagian besar dalam hidup adalah sebab akibat. (1+1 =2)

Nah, lalu manusia pun memilih sebuah jalan untuk hidup. Ya, sesederhana itu, sebuah jalan untuk hidup. Biasanya disebut oleh manusia modern dengan bekerja atau sekolah (proses sebelum bekerja) , kalau yang agak primitif sedikit disebut dengan mempertahankan diri.

Itulah jalan hidup yang telah dibuat manusia, tidak lain hanya untuk mengisi proses-proses antara remaja, dewasa dan tua.

Memahami sebuah jalan

Tidak semua orang peduli dengan jalannya sendiri. Ada yang tidak peduli, sedikit peduli dan amat peduli dengan jalan yang dipilihnya. Sekali lagi tidak ada yang benar dan salah, semuanya bebas dengan tanggung jawab masing-masing πŸ˜‰

Dari sudut pandang spiritual, setiap manusia mempunyai jalan unik yang telah ditetapkan oleh sang Pencipta manusia itu sendiri. Jadi, setiap manusia mempunyai peran atau hakikat eksistensinya di dunia ini. Nah, jalan untuk memahami hakikat eksistensinya di dunia itu, adalah jalan yang diambil oleh sebagian orang dalam menjalani hidupnya.

Tidak hanya menjalani sebuah proses sebab akibat (syariat) ataupun memilih sebuah jalan (thareqat) namun masuk kepada pemahaman kepada jalan (thareqat) yang dipilihnya (hakikat)

Nah, lagi-lagi pemahaman hakikat ini akan sangat berbeda satu orang dengan yang lainnya. Karena ini adalah kelas bebas, silahkan saja. Semuanya bebas dengan tanggung jawab masing-masing πŸ™‚

Namun perlu diingat, hakikat itu sama seperti lautan luas. Syariat adalah perahu dan dayung. Thareqat adalah petanya. Nah, silahkan membayangkan kita sedang mendayung sebuah perahu kecil di tengah lautan hakikat yang sangat luas.

Setiap jalan yang dipilih bebas namun mengandung konsekuensinya

Sampai pada pengenalan (ma’rifat)

Setelah lelah mendayung ke sana ke mari, dengan berbagai thareqat (jalan) yang ada. Kita mungkin akan bertanya terus dan bertanya, sebenarnya ini tempat apa dan bagaimana ? Kenapa kita ada disini ? Dan seterusnya..

Lanjutkan itu, terus saja berjalan, melangkah dan bergerak. Jalani masing-masing jalan yang telah dipilih. Nanti lama kelamaan, jika kita beruntung, kita akan masuk ke satu pelabuhan ma’rifat..

Ma’rifat bukanlah titik tertinggi hanya secuil pengalaman “Aha” yang pernah dibilang oleh Stephen Covey atau pencerahan yang dibilang oleh Budha, atau menemukan hidayah yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam kitab sucinya.

Titik ini bukanlah akhir dan paling puncak, justru inilah titik awal dari segala sesuatu yang menunggu di ujung sana.

Jalan keberserahan diri

Kita mulai sedikit menyadari siapa kita sesungguhnya, apa hidup ini ? Siapa manusia yang sedang kita hadapi selama ini dan siapakah yang menciptakan ini semua..

Hmm… ternyata begitu ya, awal dari ma’rifat adalah islam (berserah diri)..

Keberserahan diri mengandung arti melepaskan ego dari segala sesuatu entah itu baik atau buruk dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan Semesta alam. Keberserahan diri berarti menerima segala sesuatu tanpa menyalahkan atau membenarkan.

Menyatu dengan permasalahan hidup

901030-05-2Sempat beberapa hari kemarin pusing karena paper belum selesai, ada masalah di sana sini, akhirnya bingung, galau, haha… anyway, setiap masalah yang datang ke hidup kita selalu membawa pelajaran yang berharga untuk digali dan direnungkan

Masalah itu berawal dari ‘M’

Ya, gue pernah berfikir kenapa sih ada masalah dalam hidup ? Kenapa harus ada konflik baik di luar diri sendiri maupun di dalam diri ? Kenapa manusia harus hidup dengan penuh kontradiksi ? Adakah sebuah kehidupan tanpa masalah ? Apakah masalah itu dan seterusnya berputar-putar di kepala gue

Tapi semakin gue memikirkan dan merenungkan setiap masalah yang ada. Bukan solusi yang didapat, malah menambah masalah yang ada. Kenapa ? Cara kerja pikiran yang terbatas karena berdasarkan variabel waktu yang disimpan dalam memori pikiran.

Jadi, saat kita mencoba memecahkan masalah sebenarnya kita sedang membuat masalah yang baru. Logis ya.

Misalnya begini, contohnya gue deh, gue ada deadline paper untuk bulan depan. Sekitar tiga minggu lagi dari hari ini. Anggaplah ini masalah. Nah, terus saat kita menganggap ini masalah dan mencoba untuk menyelesaikannya, berarti ada berapa masalah ? Jadi dua.

  1. Masalah paper yang harus selesai dalam tiga minggu
  2. Bagaimana cara menyelesaikan paper dalam tiga minggu

Dan bisa saja, kita menambah panjang daftar masalah dengan memikirkannya. Terus dan terus. Bahkan kalau diperluas dua masalah di atas jadi bisa lima atau enam masalah lho, πŸ˜‰

Nah, itu salah satu contoh simulasi permasalahan dalam hidup dari kasus yang sedang gue alami. Nah, sebenarnya hakikatnya untuk setiap masalah itu sama.

Pada akhirnya, kita akan tersadar bahwa kita telah menambah panjang daftar masalah dengan memikirkannya

Melepaskan diri dari pikiran

Gue pernah belajar meditasi dulu banget waktu masih kuliah S2 di Yogya. Namun karena gue muslim, maka gue coba untuk melihat dari sudut pandang sholat.

Apa sih inti sholat ? Kalau diperhatikan setiap bacaannya sebenarnya adalah untuk melepaskan dari sempitnya persepsi manusia menuju persepsi yang tidak terbatas (baca : Tuhan).

Nah, itulah inti dari meditasi yang dulu pernah gue lakukan dan sholat yang sekarang gue lagi mencoba mendalami lagi.. (masih belajar dan banyak salahnya, hehe..). Ternyata hakikat sholat bukan hanya dari segi bacaan dan gerakannya, ada lagi yang tersembunyi dari sholat itu sendiri πŸ˜‰

Pada saat sholat, kita ‘dipaksa’ untuk melepaskan dari semua ego diri, pemikiran diri, atau apapun tentang diri kita sendiri. Ada sebuah ajakan halus di sana untuk ‘sejenak’ melupakan tentang aku dan hanya mengingat Alloh.

Sejak awal sholat dimulai dari niat sholat, menghadap kiblat, dan takbiratul ihram dan seterusnya.. Dan inilah inti dari sisi syari’at dan hakikat sholat..

Memaksa diri untuk mengerjakan semua tata cara syariat sholat untuk memahami bahwa pada hakikatnyaΒ  diri ini tiada bernilai sama sekali. Hanya Alloh Maha Segalanya

Menghilangnya sang ‘aku’

Nah, karena sang ‘aku’ sudah mulai menghilang..Β  maka disinilah muncul sebuah bimbingan kecerdasan dari Dzat yang Maha Cerdas. Nah, tapi hati-hati semuanya harus seimbang dan mendapatkan bimbingan dari guru yang tepat, biar tidak salah paham belajar yang seperti ini (Lihat tulisan saya tentang guru hidup, guru kitab suci, guru simbolis dan guru rahasia).

Inti permasalahan hidup adalah adanya aku yang mengalami masalah dan masalah itu sendiri. Aku menganggap ada masalah dan ada masalah yang harus aku selesaikan. Aku berkelahi dan bertengkar dengan masalah selama bertahun-tahun. Inilah hidup yang penuh konflik.

Untuk menghilangkan konflik dalam hidup, hilangkan aku maka tidak akan ada masalah πŸ˜‰

Menyatu dengan permasalahan hidup

Ketika aku tiada, berarti hanya ada masalah. Dan sampai disini sudah bagus. Karena tidak ada aku yang menghambat dalam menyelesaikan permasalahannya.

Kita tidak perlu menyelesaikan berbagai permasalahan. Bahkan banyak permasalahan tidak perlu diselesaikan. Biarkan saja, hehe.. sebagian besar masalah-masalah dalam hidup bukanlah masalah teknis seperti belajar, bekerja, sekolah dan sebagainya.

Masalah kita adalah masalah psikologis yang muncul dari ketakutan, self centered, kebingungan, dan perasaan-perasaan lain yang sering mencengkram dan membelenggu jiwa tanpa disadari. Cara menyadarinya gimana ? Ya, itu tadi sholat, dzikir dan ibadah-ibadah lainnya. Dari sini, gue baru sadar.

Alloh tidak membutuhkan ibadah kita namun justru kita yang membutuhkan ibadah kepada Tuhan. Tanpa kita ibadah pun, Alloh tetap Maha TInggi, Maha Suci, Maha Kaya, Maha Menguasai Segala Sesuatu. Jadi, satu atau dua orang yang ‘ingkar’ tidak akan mengubah apapun tentang Alloh. Tapi kita akan hancur baik secara psikologis dan fisik, jika kita tidak mau menyembah Alloh.

Banyak pikiran, banyak masalah, banyak hal-hal yang dapat membahayakan jiwa kita secara psikologis dan fisik. Jika kita tidak punya koneksi yang bagus dengan sumber sinyal kehidupan (baca : Tuhan), kita akan hancur cepat atau lambat. Kita yang membutuhkan Alloh, bukan sebaliknya..

Nah, saat kita sudah mulai menyadari permasalahan-permasalahan hidup itu pada hakikatnya adalah jiwa yang mulai jauh dari koneksi dengan Tuhan. Ayo, segera sambungkan sinyal masing-masing.. saatnya ada masalah, sesegera mungkin tanya kepada provider yang ada di pusat..

Hakikat masalah bukan untuk diselesaikan, melainkan kita harus menyatu dengan masalah-masalah itu. Menyatu dengan fisik, jiwa, dan ruh sekaligus. Dan juga menghubungi sumber sinyal kehidupan (baca : ibadah kepada Alloh)..

Waduh, ini bahasannya ketinggian bro, haha… semoga saya bisa melaksanakannya, Amiin… πŸ˜‰

Sumber gambar : www.pinterest.com

Menemukan makna kehidupan

2sFbF_kB

Sesaat setelah gue berbuka puasa, gue merenung sejenak.. Ya, mungkin dengan semua kesibukan gue sebagai mahasiswa dan juga suami dan insya Alloh yang sebentar lagi menjadi seorang ayah.. agak membuat diri semakin sibuk, hehe.. πŸ˜‰

Kehidupan yang ambigu

Terkadang gue sendiri bingung, untuk apa sih orang beramai-ramai mencari ketenaran, titel yang tinggi, kekayaan atau apapun itu jenisnya.. Ada lagi orang yang sibuk dengan membuat perkumpulan atau sejenisnya.. hmm..

Ya, tujuan hidup itu ambigu.. sisi abu-abu.. tidak jelas dan sifatnya jadi sangat subjektif tergantung kepada masing-masing individu maunya seperti apa. Ya, mungkin karena gue sendiri memilih jalan spiritual.. jadinya begini deh.. hehe

Tapi tunggu dulu, apa mungkin orang yang memilih jalur materialistis itu salah ? Atau orang yang memilih sistem kapitalis ? Atau demokrasi ? Dan berbagai ideologi ansich.. yang bertebaran..

Kenapa gue tidak ingin terburu-buru mengatakan bahwa jalan gue yang paling benar dan orang harus ikut dengan gue.. hmm.. karena bisa jadi jalan yang gue ambil adalah salah πŸ˜‰

Salah dan benar siapa yang tahu ? Nah, lhoo ???

Benar dan salah sejatinya itu..

Nah, kembali lagi kepada teori benar dan salah.. hmm.. sebenarnya siapa yang benar dan salah ??

Pertanyaan ini sudah berabad-abad yang lampau.. namun tidak ada yang bisa menjawabnya πŸ˜‰ Kenapa ? Karena saat kita mencoba mengenggam kebenaran itu dengan persepsi pikiran maka kebenaran itu sendiri yang akan hilang kesejatiannya..

Dan gue memahami konsep ini, saat gue masih kuliah di UGM dulu.. Intinya, kebenaran dan kesalahan itu mempunyai nilai yang relatif dalam skala pemikiran manusia.. Jadi ya, setiap pembenaran atau pemberian label salah dari seseorang kepada orang lainnya, itu sifatnya relatif dan tidak tetap..

Namun saat, kita melalui berbagai macam peristiwa kehidupan, ada ‘sesuatu’ dibalik semua peristiwa ini yang sedang mencoba memperkenalkan diriNya..

Kehidupan yang diluar batas kemampuan

Gue sendiri mengalami, setiap jejak kehidupan gue, selalu berada di luar batas kemampuan gue. Dengan tetap menghormati, orang yang mempunyai perbedaan pemahaman..

Dan gue menyadari bahwa gue selalu kalah, menyerah dan pasrah terhadap semua gelombang kehidupan ini.. Gue gak berdaya bro.. hehe,, tapi ‘Sesuatu’ itu selalu ada.. membantu, menolong, kadang menguji dan sebagainya..

Dan seiring berjalannya waktu, gue mulai mengenal kalau ‘Sesuatu’ ituΒ  adalah Tuhan yang berada di balik semua ini..

Secercah makna..

Dan mungkin, inilah sedikit makna yang ingin gue tulis di sini, sebagai kenang-kenangan di masa mendatang.

Normatifnya tujuan hidup adalah ibadah, tapi ibadah yang seperti apa dan kenapa harus ibadah ? Lagi-lagi, ini pun membutuhkan perjalanan untuk menjawabnya..

Setelah sekian lama, gue mulai memahami konsep ini..

Dan memang benar.. kalau tujuan hidup adalah untuk beribadah untuk Tuhan. Maka semua yang sedang kita kerjakan saat ini pada dasarnya adalah absurd dan akan mempunyai value saat disandarkan kepada objek dari ibadah itu yang menjadi tujuan akhir

Tujuan itu adalah Tuhan..

Mungkin ini adalah akhir perjalanan namun justruΒ  ini adalah awal perjalanan..

Ya, awal dari semua paper-paper yang akan ditulis sebagai salah satu kewajiban mahasiswa S3, awal dari kehidupan rumah tangga bersama istri, awal dari calon bayi yang akan mengisi hidup kami, awal dari karir yang entah akan seperti apa di masa mendatang..

Tapi dari awal ini, semua aku mulai memahami.. kenapa setiap Nabi di setiap zaman selalu mengingatkan hal ini..

Karena memang inilah makna yang tersembunyi dari kehidupan ini πŸ˜‰

Sumber gambar : @artikelkebahagiaan