Berguru kepada guru di ‘dalam’

Image result for triangle

Beberapa hari ini ada perasaan yang tidak enak, entah sesuatu yang membuat risau atau memang lagi ga mood πŸ˜‰

Memeriksa tanda-tanda tubuh

Tubuh, jiwa, dan ruh.. merupakan tiga kesatuan yang menjadi bagian keseluruhan dari manusia. Tubuh sering memberikan tanda-tanda bahwa ada sesuatu yang salah dalam hidup. Misalnya,

Sakit perut bagian sebelah kiri untuk orang yang sering stress dan banyak pikiran. Biasanya bagian lambung yang diserang, atau perut bagian kanan (hati atau hepar) biasanya ada indikasi emosi yang terpendam oleh masalah atau karena seseorang. Perut bagian bawah, ada kemungkinan terlalu memaksakan diri dalam hidup dan ingin semua hal berjalan sesuai dengan keinginan. Sakit kepala, biasanya ditandai banyak pikiran atau pekerjaan.

Dan seterusnya… tanda-tanda diatas biasanya yang sering gue alami, hehe..Β  Sebenarnya banyak lagi yang terkait dengan jantung, paru-paru, gula darah, kolesterol, dll..

Gue membaca salah satu referensi yang cukup menarik tentang biopsikologi (gabungan antara ilmu biologi dan psikologi) yang mencoba meneliti tubuh manusia dari sudut pandang penerimaan dan pengiriman sinyal oleh neurons. Buku ini ditulis oleh John P.J. Pinel, gambar di bawah ini diambil dari salah satu bukunya

neurotransmitter

Beberapa hormon yang berperan pada proses neurotransmitter, salah satunya adalah serotonin yang berfungsi pada mood, pengaturan suhu, agression (gue bingung mengartikannya, mungkin seperti kewaspadaan terhadap sesuatu). Intinya setiap ada perubahan pada hormon serotonin akan menyebabkan perubahan mood.

Alur logika masih belum begitu nyambung, tapi gue melihat ada kesesuaian antara mood (perasaan sedih, senang, bahagia, galau) dengan perubahan hormon serotonin yang akan berperan pada perbedaan proses neurotransmitter pada sel. Dengan demikian ada pengaruh pada organ tubuh manusia saat adanya perubahan mood, perubahan hormon serotonin dan kondisi organ tubuh manusia (masih perlu riset lebih jauh)

Mari berguru kepada tubuh kita sendiri dengan memperhatikan tanda-tanda yang sederhana (sakit perut, sakit dada, sakit kepala) dengan kondisi psikologis kita sendiri

Berguru kepada jiwa

Guru yang kedua adalah jiwa… untuk jiwa sendiri masih agak misterius karena mulai abstrak dan tidak dapat dilihat secara kasat mata. Tapi jiwa itu ada. Karena Alloh SWT sering mengatakan tentang nafs (jiwa) dalam Al Qur’an…

Bahkan jiwa itu sendiri telah melalui proses bersyahadat di alam rahim (buku Agus Mustofa yang berjudul bersyahadat di alam rahim).. dan beberapa bukti ayat Al Qur’an yang belum dapat diceritakan dengan jelas disini..

Sederhananya, jiwa itu tidak dapat dilihat namun dapat dirasakan. Misalnya saat senang atau sedih. Siapakah yang membuat kedua rasa itu ? Kenapa kedua rasa itu ada ? Nah, jiwa disini berperan dalam MENGALAMI kedua rasa itu. Rasa senang diakibatkan oleh persepsi otak kepada sebuah peristiwa atau sesuatu yang dapat berupa hubungan personal atau intrapersonal.. Lalu otak berdasarkan memori masa lalu, membuat persepsi rasa bahagia. Lalu tubuh akan merasakan rasa nyaman, tentram, damai dan bahagia..

Demikian pula rasa sedih, ada faktor luar yang terjadi lalu terjadi proses persepsi di dalam otak dan akhirnya akan muncul persepsi rasa sedih. Lalu tubuh akan membuat reaksi dengan menangis, lalu jika rasa sedih itu terlalu mendalam akan mendatangkan peningkatan asam lambung (tubuh membuat persepsi sebagai stress) yang akan diikuti dengan rasa sakit perut bagian sebelah kiri. Kalau emosi yang dirasakan kemarahan yang sangat besar, maka rasa sakit akan dirasakan pada perut bagian sebelah kanan. Artinya bagian hepar akan mengalami ketidakstabilan

Saya pribadi, perlu untuk riset secara mendalam untuk melihat proses ini dalam kacamata yang lebih komprehensif dengan melibatkan pada beberapa disiplin ilmu yang ada seperti biopsikologi, psikologi kognitif

Agus Mustofa dalam bukunya menyelami samudera jiwa dan ruh, mengatakan bahwa jiwa itu terletak di otak.. Hmm.. masuk akal karena proses kognitif yang dijelaskan pada ilmu psikologi kognitif terjadi di otak. Dan semua perasaan senang maupun sedih, akan terjadi dari otak.. untuk saat ini saya mengakui bahwa jiwa itu terletak di otak.. walaupun saya akan terus meneliti tentang ini πŸ˜‰

Berguru kepada ruh

Nah, kalau yang ini saya tidak dapat ceritakan lebih jauh. Karena masuk dalam ranah yang sangat rahasia dan kalau diceritakan malah terkesan subjektif..

Alloh menyebutkan bahwa tentang ruh, kita hanya diberitahu sedikit. Artinya ada ilmunya namun sedikit. Dan karena hanya sedikit jadi setiap orang akan meraba-raba tentang kebenaran itu..

Pak Gede Prama sering menceritakan tentang ilmu spiritual yang sifatnya ‘rahasia’ dan tidak dapat dipahami dan diajarkan untuk umum. Mungkin ini adalah salah satunya. Guru saya, Ustadz Djamhir pun sering menyebutkan bahwa urusan ruh adalah ‘rahasia Alloh’.. atau Pak Ary GInandjar Agustian yang menyebutkan adanya suara hati universal pada diri setiap orang yang sesuai dengan 99 Asma’ul Husna..

Walaupun begitu, berguru kepada ruh harus tetap dilakukan meskipun dalam konteks yang sangat pribadi dan subjektif itu tadi.. karena setiap orang dapat mengalami proses yang berbeda-beda dan bisa jadi akan menemukan hal yang berbeda-beda pula.. tak ada yang sama dan tak ada yang tahu.. hanya Alloh yang Maha Mengetahui..

Pak Gede Prama membuat sebuah perumpamaan yang sangat indah di tahap ini, tatkala mentari yang muncul di ufuk timur langit mengalami singkronisasi dengan mentari yang muncul di dalam diri.. maka boleh jadi kita sudah menemukan guru sejati yang ada di dalam diri..

Berguru kepada tubuh, jiwa dan ruh

Pada akhirnya, tubuh, jiwa dan ruh akan menjadi guru kita.. semacam alarm atau early warning system saat kehidupan mulai memasuki masa-masa berbahaya sehingga kita dapat segera mengantisipasi sesegera mungkin..

Ini mungkin yang disebutkan oleh Umar bin Khattab r.a. sebagai hakikat taqwa yaitu melangkah dengan hati-hati saat melewati jalan yang berduri..

Ada material-spiritual (gabungan antara kejelasan panca indera dengan ketidakjelasan persepsi dikarenakan panca indera tidak dapat membuat persepsi lagi)… disini dibutuhkan tidak hanya logika namun juga iman.. ya, gabungan keduanya yang mungkin saja dibutuhkan untuk memahami guru tubuh, guru jiwa dan guru ruh sebagai satu kesatuan guru

Sumber gambar : http://mathworld.wolfram.com

Retroperspective 2016

http://happynewyear20.com/wp-content/uploads/2016/08/Happy-New-Year-2017-Wallpaper_16.jpg

Bahahaha, itulah tulisan judul yang gue tulis menjelang pergantian tahunΒ  Sengaja gue pilih kata-kata yang sulit, njelimet, biar kelihatan kalo gue adalah bakal calon S3, hahaha *narsis.. (padahal belum jelas juga tuh risetnya, hahaha)..

Awalnya gue udah ngantuk mau tidur, tapi karena bunyi petasan sama anak-anak kecil yang lagi pada maen diluar, gue gak bisa tiduuur !!! ><

Daripada nonton TV, atau baca buku. Gue pengen coba nulis di malam pergantian tahun ini. Akhir-akhir ini, gue jarang banget nulis. Agak males dan sibuk sama studi yang sedang gue jalani. Dan juga, akhir-akhir ini, jarang ada ide muncul untuk menulis. Well, berikut ini, adalah sedikit renungan selama tahun 2016 yang sudah gue jalani.. πŸ˜‰

Memulai keluarga baru

Yeeay.. gue ga jadi jomblo lagi… (prok.. prok..), sejak tanggal 20 desember 2015, gue resmi mempersunting seorang putri asli kelahiran Banjarmasin. Lewat keisengan seorang teman kost gue yang kenalin gue sama ‘itu’ orang. Dan akhirnya, gue resmi mengucapkan ijab qabul pada tanggal tersebut. Dan di awal tahun 2016 kemarin, adalah lembaran baru untuk tahun 2016, sekaligus awal lembaran baru bagi gue berdua untuk membina keluarga baru.

Nobody’s perfect as you are not perfect man.. although, might the perfectness could be found in imperfectness

Dan pelajaran terpenting dari keluarga adalah ketidaksempurnaan. Saat kita memasuki dunia yang paling pribadi dari seseorang dan keluarga yang berbeda. Inilah pemahaman utuh yang akan kita dapatkan. Imperfect πŸ˜‰ Family is imperfect as we are, as you are and as I am..

Pergantian dunia praktisi ke dunia akademisi

Enjoy banget gue sama dunia praktisi, tapi entah kenapa saat ada tawaran beasiswa, gue langsung tergiur. Agak nyesel sih, sekarang gue kenapa ambil tawaran jadi full student untuk PhD… karena gue harus meninggalkan dunia yang sebenarnya lebih ‘banyak pengalaman nyata’ ketimbang dunia akademis yang notabene hanya ‘teori di atas kertas’.. walaupun gue mengakui ada sisi-sisi dunia akademis yang akan berguna di dunia praktisi.. namun secara umum, dunia akademis adalah dunia idealis yang tidak semua hal dapat diterapkan di realitas pekerjaan πŸ˜‰

Sempat terjadi masa-masa kegalauan disini, karena mengambil kuliah lagi setelah gue memasuki dunia kerja, tidak semudah yang dibayangkan. Gue harus melakukan adaptasi psikologis ke dalam diri gue yang sudah terbiasa untuk berfikir dan bertindak praktis menjadi agak ‘njelimet’ hahahaha

Ditambah lagi, masalah yang gue temukan di sana sini selama studi S3 yang membuat jadi stress dan depresi, hahahaha.. serius ini jadi catatan bagi yang untuk mau ambil studi S3. Jangan mengira kalau studi S3 adalah surga, justru sebaliknya this is hell, boy, hahahaha

Disinilah, gue memahami sebuah proses yang menjadi inti judul di atas, retroperspective, ya sejenis sebuah titik balik dari persepsi yang sudah ada. Kemudian perspektif itu menjadi terbarukan oleh proses yang ada. SebenarnyaΒ  perspektif gue tetap sama terhadap dunia akademis, ga berubah sejak dulu, hehe tapi gue mendapatkan perspektif baru disini

Something could show the new face when you changed the point of view

Gue sudah tahu sejak gue ambil studi S3, bahwa yang akan gue temui adalah metodologi yang rumit, tidak praktis dan jalan yang muter-muter. Padahal ketika gue di dunia praktisi, gue hanya menggunakan cara praktis untuk menyelesaikan masalah. Kenapa dunia akademis menggunakan cara yang rumit, hehehe.. namun gue belajar satu hal disini..

To solve the biggest problem, we should approach the problem from the basic solution..

Studi S3 berbeda dengan S1 dan S2 yang sudah gue pernah jalani. Dan gue disini belajar untuk belajar tentang sesuatu hal yang sederhana dapat menyelesaikan masalah. Ya, ga ada bedanya dengan dunia praktisi, hanya saja caranya dipertajam dan didetailkan. Well.. gue mencoba untuk mengambil sisi positif dari negatifnya studi S3.

Everything appears in two side, like the bitter and black of coffee, you might found the sweetness in a cup of coffee…

Menyambut kelahiran manusia baru

Dan di tahun ini pula, akan lahir calon dedek bayi yang diperkirakan akan dilahirkan pada bulan Februari 2017. Puji syukur, kami panjatkan kepada Tuhan Semesta Alam yang telah memberikan kami karunia ini. Alhamdulillah.. πŸ˜‰

Lagi-lagi, tanda-tanda kebesaran Alloh telah ditunjukkan kepada kami berdua bahwa seorang manusia telah tercipta dari ke’tiada’an menuju ke’ada’an. Dari satu sel menjadi jutaan dan milyaran sel. Dan pada akhirnya, sebuah individu yang berbentuk ‘lain’ telah disiapkan untuk berpindah alam dari ‘rahim’ menuju ‘dunia’..

Well.. gue ga bisa cerita banyak disini, hehe.. intinya, sih.. ya kita berdua sedang dibuat takjub oleh kekuasaan Alloh terhadap penciptaan manusia.

Ya Alloh, mudahkanlah proses persiapan kelahirannya dan proses kelahirannya pada hari-H. Hanya kepada Alloh, urusan segala sesuatu..

Retroperspective 2016

Setengah jam lagi, pergantian tahun akan terjadi. Ya, good bye untuk tahun 2016, thanks for everything. Bentar lagi kalender 2016 akan diganti dari dinding-dinding dan meja yang ada di seluruh dunia. Setiap coretan dan planning yang pernah tercoreh di setiap kalender, mempunyai makna tersendiri.. bahwa setiap waktu yang berlalu itu berharga, setiap kejadian yang terjadi di dalamnya adalah berharga, karena hidup itu sendiri adalah sebuah penghargaan yang tiada berhingga untuk yang telah menganugerahi hidup kepada kita..

Like ourselves, our family.. imperfectness might be found in life. Many colours, feelings, events, and everything had been happened in 2016. Yeah, we couldn’t force everything as our wish, our want, our planning, our imagination, our desire and our ideal. However, everything had been withered away, was the best time, the best event, the best blessed from God to us in 2016.

I couldn’t count how much sweat had dropped in the way, how many words that I type, how much prayer that I pray for, how much stress that I got, how many blessed that I had. However, thanks for everything in 2016 πŸ˜‰

Selamat datang tahun baru 2017, selamat datang kertas putih yang membentang luas untuk dilukis dengan berbagai usaha dan doa. Selamat datang takdir-takdir baru yang akan menyapa di tahun yang baru nanti.. What ever will be, will be πŸ˜‰

Sumber gambar :happynewyear20.com

Menemukan cahaya dalam kegelapan

https://treeoflifenaples.files.wordpress.com/2010/08/light-in-darkness.jpg

Dulu banget saat pergantian tahun 2012 ke 2013, ada sebuah masalah berat yang menimpa hidup gue. Walaupun lagi-lagi, berat atau tidaknya masalah itu relatif bagi setiap orang. Tapi bagi gue tahun-tahun itu adalah masalah berat untuk gue..

Tahun-tahun berjalan, perlahan gue mulai menemukan passion, pekerjaan yang gue sukai dan alhamdulillah pekerjaan-pekerjaan gue lancar dan ada sedikit prestasi πŸ˜‰

Namun, pada rentang bulan agustus-september 2016, adalah bulan-bulan tergelap dalam hidup gue, hahaha..

Memasuki lorong gelap

Darkness is not enemy of light, both of them completed each other

Saat memasuki episode gelap dalam hidup, pasti rasanya ga enak. Begitu juga dengan apa yang gue alami. Kalau ada lagunya Peter Pan yang berjudul “Khayalan Tingkat Tinggi”, gue akan menyanyi dengan lagu “galau tingkat tinggi” haha..

Pernah gue menulis juga yang serupa seperti ini saat tahun 2013. Gue lupa persis tanggalnya, ya mungkin sekedar gue me-review kembali apa yang sudah gue pelajari dan gue alami

Darkness is natural as well as light.. Like the sun rises every morning and sun set every evening.. everything is natural

Banyak yang gak suka dengan kegelapan, well.. gue juga.. Dan gue ga pernah mau yang namanya masuk ke dalam episode kegelapan dalam hidup (baca : kegagalan, permasalahan, etc). Namun sebagaimana cahaya yang berasal dari cahaya matahari saat pagi dan gelapnya dunia saat malam hari, memberikan pesan.. cahaya dan gelap adalah dua hal yang alamiah dalam kehidupan πŸ˜‰

Berhasil, sukses, pujian adalah satu sisi kehidupan yang sangat disukai oleh banyak orang. Ya, termasuk gue-lah, hehe.. Dan gue pun sangat ingin mendapatkan semua itu (baca : gula-gula kehidupan). Hanya suatu saat dalam perputaran karma kehidupan, ada kalanya gelap itu datang. Suka atau enggak, cepat atau lambat pasti gelap akan datang dalam hidup kita.

Sesederhana mentari yang terbit pasti akan tenggelam. Daun yang hijau di pohon, cepat atau lambat akan menguning lalu jatuh ke tanah. Bunga pun demikian, ada kalanya bunga menguncup lalu kemudian mekar dan akhirnya bunga akan berguguran ke tanah.

Everything in this life is impermanent.. The effort to make impermanent become permanent is the core of suffering

Menyalakan lilin kesadaran diri

Saat kita memasuki lorong gelap kehidupan, jangan lari.. Lari akan membuat diri semakin tersesat dalam lorong kegelapan. Jangan pula menyalahkan orang yang ada di sekeliling kita. Kenapa ? Karena kondisi lagi gelap, kita tidak bisa dengan jelas melihat orang di sekeliling kita secara psikologis.

Jangan pula meninju, melempar sapu, atau benda apapun ke dalam lorong kegelapan. Karena apa ? Semua usaha yang dilakukan untuk melawan kegelapan adalah sia-sia..

Tidak perlu melawan saat memasuki lorong ini, mengutuk apalagi menyalahkan siapapun. Ini adalah perputaran takdir yang sudah sempurna, terima, enjoy dan mengalir dalam episode kegelapan ini πŸ˜‰

Saat kita menerima semua hal yang terjadi dalam hidup kita. Perlahan, lilin kesadaran akan mulai menyala dan kita dapat menyusuri lorong gelap dengan sedikit cahaya dari kesadaran diri

Keluarga adalah api kehangatan

Tatkala lilin kesadaran sudah menyala, langkah berikutnya adalah kembali ke rumah yang bernama keluarga. Peluk istri, anak, diskusi dengan orang tua. Hal-hal ini akan membuat api kehangatan mulai menyala. Untuk memperbesar api kehangatan, sahabat pun bisa menjadi alternatif untuk memperkuat nyala api..

Tapi ingat, jangan terlalu besar apinya, bukan menerangi nanti bisa membakar. Curhat ke istri boleh tapi jangan berlebihan. Begitu pula diskusi dengan ortu atau sahabat, boleh tapi jangan kebanyakan haha..

Karena sudah memasuki ruang publik, kita harus sesadar-sadarnya untuk tahu batas dalam menyampaikan sesuatu. Sehingga api kehangatan tidak berubah menjadi kebakaran πŸ˜‰

Membuka gerbang cahaya

Saat lilin kesadaran diri sudah menyala, api keluarga sudah mulai menghangatkan.. Sekarang saatnya untuk membuka gerbang cahaya di lorong kegelapan ini. Ada dua pendekatan :

  1. Membuka gerbang cahaya melalui ‘guru’ yang ada di dalam
  2. Berdoa kepada Tuhan untuk membukakan pintu cahaya

Pada pendekatan yang pertama, agak sulit karena membutuhkan pengetahuan spiritual yang sudah cukup. Tidak harus banyak namun setidaknya paham dengan maksud guru yang ada di dalam.

Pada pendekatan yang kedua, lebih universal. Karena berdoa mudah dilakukan namun sulit untuk memaknai berdoa kepada Tuhan untuk membukakan pintu cahaya. Jalannya pun untuk setiap orang dapat berbeda-beda. Ada yang menggunakan nomor 1 & 2, ada yang cukup no.2 saja dan ada yang hanya no.1 saja..

Manapun jalan yang dipilih, silahkan membuka gerbang cahaya yang sudah ada di depan mata πŸ˜‰

Sumber gambar : https://treeoflifenaples.wordpress.com/2010/08/23/a-light-in-the-darkness/

 

Hakikat kehidupan part (1)

Image result for perjalanan

Well, sudah satu bulan yang lalu gue mendapatkan permasalahan yang berat. Alhamdulillah sekarang sudah selesai dan kembali normal. Lagi-lagi gue ditolong sama Tuhan saat gue harus melewati persimpangan ‘berbahaya’ dalam hidup..

Menemukan makna kehidupan

Sejak gue bekerja di perusahaan dan kembali menjadi mahasiswa. Ada banyak hal yang mulai terlewati dalam setiap ‘episode’ kehidupan.. Ya, bekerja cenderung monoton, team work, by system, etc.. intinya adalah setiap proses usaha selalu didukung oleh banyak orang, system dan management. Well, gue bisa katakan.. gue ga menemukan permasalahan yang sangat substansial saat gue bekerja di perusahaan.

Lain halnya, ketika gue belajar di kampus.. Jreng.. jreng.. semuanya berubah. Gue sekarang single fighter menghadapi rumitnya proses riset dan ketidakpastian yang tinggi. Lantas gue pun terhanyut ke dalam ketidakpastian yang tinggi.

Dan disinilah permasalahan gue dimulai, gue terbiasa oleh sistem, integrated management, nah ketika terjun ke dunia riset. Gue agak terkejut broh, haha..

Everything is good, whether it is good or bad event, they come to you for ‘Higher Purpose”

Memahami setiap kejadian dalam hidup

Well, perlahan-lahan gue pun mulai beradaptasi dengan situasi yang terjadi saat ini. Namun tetap karena riset gue sekarang skala besar, gue coba untuk membentuk tim survey untuk meminimalisir overwork dan single fighter tadi πŸ˜‰

Sudah lama, gue meninggalkan dunia spiritualitas. Sebenarnya ga meninggalkan banget sih, cuma gue ga punya waktu untuk membaca, meditasi dan merenungkan hakikat kehidupan. Ya, pekerjaan membuat semuanya menjadi rutin dan tidak ada hal yang dapat digali dari kehidupan..

Namun semua berubah saat gue sekolah, muncul masalah di sana-sini, permasalahan kehidupan yang datang silih berganti. Situasi ini membuat gue harus kembali lagi mempelajari tentang hakikat, spiritualitas dan Tuhan.. jadilah tulisan-tulisan ini kembali mengalir..

Even in the worst condition, do not run. Just keep still and silence. If you do so, life will show the hidden treasure..

Membuka gerbang keheningan

Dan seketika, di saat semua masalah datang silih berganti. Gue pun menyerah, ya menyerah atas semua tamu kehidupan yang bernama masalah. Alih-alih gue melarikan diri, gue diam saja. Ya, diam dan hening..

Setelah lama gue tinggalkan kebiasaan meditasi, gue mulai kembali meditasi. Sudah lama gue ga baca buku-buku spiritual, gue kembali membaca buku-buku spiritualitas. Dan gue mencoba untuk memahami makna di balik kehidupan gue ini..

Perlahan namun pasti, gerbang keheningan yang pernah gue tinggalkan sejak lama kini kembali terbuka.. rangkaian kebetulan dalam kehidupan sudah mulai dapat terbaca kembali..

Ya, selamat datang di gerbang keheningan, semoga diujung sama gue dapat berjumpa dengan Diri Sejati πŸ˜‰

Sumber gambar : permanalukman27.wordpress.com

Syariat – thariqat – hakikat – ma’rifat – berserah diri

Rojyk5jr

Banyak sekali jalan yang dapat dipilih oleh manusia dalam hidup ini. Ada yang memilih jalan baik atau buruk. Disini tidak akan diberikan label atau judgement apapun tentang pilihan jalan hidup masing-masing. Karena setiap orang sedang bertumbuh dengan jalan yang dipilihnya masing-masing.

Selain itu, kitab suci sudah menyatakan hukum keseimbangan yang tidak akan berubah sampai kapanpun, perbuatan baik akan dibalas kebaikan dan begitu pula sebaliknya πŸ˜‰

Mencari sebuah jalan

Pada hakikatnya manusia dilahirkan dari sebuah ketiadaan lalu menjadi ada. Proses ketiadaan menjadi ada melalui sebuah proses penciptaan dalam rahim seorang wanita. Penyatuan dua kutub yang saling berlawanan (maskulin dan feminim), (sperma dan ovum), lantas menjadi sesuatu yang disebut janin, dan seterusnya..

Lahirlah seorang sosok yang bernama manusia ke dalam hidup ini. Lantas ia menjadi anak kecil, remaja, dewasa, tua dan kembali lagi kepada hakikat awalnya, tiada.

Proses manusia menjalani setiap tingkatan demi tingkatan dalam hidup melalui berbagai proses yang sifatnya sebab akibat (baca : memang sewajarnya seperti itu). Bagi yang mau makan, harus mencari makan bisa dengan berkebun, berburu binatang, memancing ikan, atau seperti yang dilakukan oleh manusia modern, membeli sesuatu dengan uang.

Kalau mau pintar ya belajar, tapi ada juga orang yang belajar tidak pintar-pintar. Ini bukan karena proses sebab akibatnya yang tidak tepat melainkan ada sesuatu yang memang diluar hukum sebab akibat ini. Namun bisa dikatakan sebagian besar dalam hidup adalah sebab akibat. (1+1 =2)

Nah, lalu manusia pun memilih sebuah jalan untuk hidup. Ya, sesederhana itu, sebuah jalan untuk hidup. Biasanya disebut oleh manusia modern dengan bekerja atau sekolah (proses sebelum bekerja) , kalau yang agak primitif sedikit disebut dengan mempertahankan diri.

Itulah jalan hidup yang telah dibuat manusia, tidak lain hanya untuk mengisi proses-proses antara remaja, dewasa dan tua.

Memahami sebuah jalan

Tidak semua orang peduli dengan jalannya sendiri. Ada yang tidak peduli, sedikit peduli dan amat peduli dengan jalan yang dipilihnya. Sekali lagi tidak ada yang benar dan salah, semuanya bebas dengan tanggung jawab masing-masing πŸ˜‰

Dari sudut pandang spiritual, setiap manusia mempunyai jalan unik yang telah ditetapkan oleh sang Pencipta manusia itu sendiri. Jadi, setiap manusia mempunyai peran atau hakikat eksistensinya di dunia ini. Nah, jalan untuk memahami hakikat eksistensinya di dunia itu, adalah jalan yang diambil oleh sebagian orang dalam menjalani hidupnya.

Tidak hanya menjalani sebuah proses sebab akibat (syariat) ataupun memilih sebuah jalan (thareqat) namun masuk kepada pemahaman kepada jalan (thareqat) yang dipilihnya (hakikat)

Nah, lagi-lagi pemahaman hakikat ini akan sangat berbeda satu orang dengan yang lainnya. Karena ini adalah kelas bebas, silahkan saja. Semuanya bebas dengan tanggung jawab masing-masing πŸ™‚

Namun perlu diingat, hakikat itu sama seperti lautan luas. Syariat adalah perahu dan dayung. Thareqat adalah petanya. Nah, silahkan membayangkan kita sedang mendayung sebuah perahu kecil di tengah lautan hakikat yang sangat luas.

Setiap jalan yang dipilih bebas namun mengandung konsekuensinya

Sampai pada pengenalan (ma’rifat)

Setelah lelah mendayung ke sana ke mari, dengan berbagai thareqat (jalan) yang ada. Kita mungkin akan bertanya terus dan bertanya, sebenarnya ini tempat apa dan bagaimana ? Kenapa kita ada disini ? Dan seterusnya..

Lanjutkan itu, terus saja berjalan, melangkah dan bergerak. Jalani masing-masing jalan yang telah dipilih. Nanti lama kelamaan, jika kita beruntung, kita akan masuk ke satu pelabuhan ma’rifat..

Ma’rifat bukanlah titik tertinggi hanya secuil pengalaman “Aha” yang pernah dibilang oleh Stephen Covey atau pencerahan yang dibilang oleh Budha, atau menemukan hidayah yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam kitab sucinya.

Titik ini bukanlah akhir dan paling puncak, justru inilah titik awal dari segala sesuatu yang menunggu di ujung sana.

Jalan keberserahan diri

Kita mulai sedikit menyadari siapa kita sesungguhnya, apa hidup ini ? Siapa manusia yang sedang kita hadapi selama ini dan siapakah yang menciptakan ini semua..

Hmm… ternyata begitu ya, awal dari ma’rifat adalah islam (berserah diri)..

Keberserahan diri mengandung arti melepaskan ego dari segala sesuatu entah itu baik atau buruk dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan Semesta alam. Keberserahan diri berarti menerima segala sesuatu tanpa menyalahkan atau membenarkan.