Syariat – thariqat – hakikat – ma’rifat – berserah diri

Rojyk5jr

Banyak sekali jalan yang dapat dipilih oleh manusia dalam hidup ini. Ada yang memilih jalan baik atau buruk. Disini tidak akan diberikan label atau judgement apapun tentang pilihan jalan hidup masing-masing. Karena setiap orang sedang bertumbuh dengan jalan yang dipilihnya masing-masing.

Selain itu, kitab suci sudah menyatakan hukum keseimbangan yang tidak akan berubah sampai kapanpun, perbuatan baik akan dibalas kebaikan dan begitu pula sebaliknya ๐Ÿ˜‰

Mencari sebuah jalan

Pada hakikatnya manusia dilahirkan dari sebuah ketiadaan lalu menjadi ada. Proses ketiadaan menjadi ada melalui sebuah proses penciptaan dalam rahim seorang wanita. Penyatuan dua kutub yang saling berlawanan (maskulin dan feminim), (sperma dan ovum), lantas menjadi sesuatu yang disebut janin, dan seterusnya..

Lahirlah seorang sosok yang bernama manusia ke dalam hidup ini. Lantas ia menjadi anak kecil, remaja, dewasa, tua dan kembali lagi kepada hakikat awalnya, tiada.

Proses manusia menjalani setiap tingkatan demi tingkatan dalam hidup melalui berbagai proses yang sifatnya sebab akibat (baca : memang sewajarnya seperti itu). Bagi yang mau makan, harus mencari makan bisa dengan berkebun, berburu binatang, memancing ikan, atau seperti yang dilakukan oleh manusia modern, membeli sesuatu dengan uang.

Kalau mau pintar ya belajar, tapi ada juga orang yang belajar tidak pintar-pintar. Ini bukan karena proses sebab akibatnya yang tidak tepat melainkan ada sesuatu yang memang diluar hukum sebab akibat ini. Namun bisa dikatakan sebagian besar dalam hidup adalah sebab akibat. (1+1 =2)

Nah, lalu manusia pun memilih sebuah jalan untuk hidup. Ya, sesederhana itu, sebuah jalan untuk hidup. Biasanya disebut oleh manusia modern dengan bekerja atau sekolah (proses sebelum bekerja) , kalau yang agak primitif sedikit disebut dengan mempertahankan diri.

Itulah jalan hidup yang telah dibuat manusia, tidak lain hanya untuk mengisi proses-proses antara remaja, dewasa dan tua.

Memahami sebuah jalan

Tidak semua orang peduli dengan jalannya sendiri. Ada yang tidak peduli, sedikit peduli dan amat peduli dengan jalan yang dipilihnya. Sekali lagi tidak ada yang benar dan salah, semuanya bebas dengan tanggung jawab masing-masing ๐Ÿ˜‰

Dari sudut pandang spiritual, setiap manusia mempunyai jalan unik yang telah ditetapkan oleh sang Pencipta manusia itu sendiri. Jadi, setiap manusia mempunyai peran atau hakikat eksistensinya di dunia ini. Nah, jalan untuk memahami hakikat eksistensinya di dunia itu, adalah jalan yang diambil oleh sebagian orang dalam menjalani hidupnya.

Tidak hanya menjalani sebuah proses sebab akibat (syariat) ataupun memilih sebuah jalan (thareqat) namun masuk kepada pemahaman kepada jalan (thareqat) yang dipilihnya (hakikat)

Nah, lagi-lagi pemahaman hakikat ini akan sangat berbeda satu orang dengan yang lainnya. Karena ini adalah kelas bebas, silahkan saja. Semuanya bebas dengan tanggung jawab masing-masing ๐Ÿ™‚

Namun perlu diingat, hakikat itu sama seperti lautan luas. Syariat adalah perahu dan dayung. Thareqat adalah petanya. Nah, silahkan membayangkan kita sedang mendayung sebuah perahu kecil di tengah lautan hakikat yang sangat luas.

Setiap jalan yang dipilih bebas namun mengandung konsekuensinya

Sampai pada pengenalan (ma’rifat)

Setelah lelah mendayung ke sana ke mari, dengan berbagai thareqat (jalan) yang ada. Kita mungkin akan bertanya terus dan bertanya, sebenarnya ini tempat apa dan bagaimana ? Kenapa kita ada disini ? Dan seterusnya..

Lanjutkan itu, terus saja berjalan, melangkah dan bergerak. Jalani masing-masing jalan yang telah dipilih. Nanti lama kelamaan, jika kita beruntung, kita akan masuk ke satu pelabuhan ma’rifat..

Ma’rifat bukanlah titik tertinggi hanya secuil pengalaman “Aha” yang pernah dibilang oleh Stephen Covey atau pencerahan yang dibilang oleh Budha, atau menemukan hidayah yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam kitab sucinya.

Titik ini bukanlah akhir dan paling puncak, justru inilah titik awal dari segala sesuatu yang menunggu di ujung sana.

Jalan keberserahan diri

Kita mulai sedikit menyadari siapa kita sesungguhnya, apa hidup ini ? Siapa manusia yang sedang kita hadapi selama ini dan siapakah yang menciptakan ini semua..

Hmm… ternyata begitu ya, awal dari ma’rifat adalah islam (berserah diri)..

Keberserahan diri mengandung arti melepaskan ego dari segala sesuatu entah itu baik atau buruk dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan Semesta alam. Keberserahan diri berarti menerima segala sesuatu tanpa menyalahkan atau membenarkan.

Menyatu dengan permasalahan hidup

901030-05-2Sempat beberapa hari kemarin pusing karena paper belum selesai, ada masalah di sana sini, akhirnya bingung, galau, haha… anyway, setiap masalah yang datang ke hidup kita selalu membawa pelajaran yang berharga untuk digali dan direnungkan

Masalah itu berawal dari ‘M’

Ya, gue pernah berfikir kenapa sih ada masalah dalam hidup ? Kenapa harus ada konflik baik di luar diri sendiri maupun di dalam diri ? Kenapa manusia harus hidup dengan penuh kontradiksi ? Adakah sebuah kehidupan tanpa masalah ? Apakah masalah itu dan seterusnya berputar-putar di kepala gue

Tapi semakin gue memikirkan dan merenungkan setiap masalah yang ada. Bukan solusi yang didapat, malah menambah masalah yang ada. Kenapa ? Cara kerja pikiran yang terbatas karena berdasarkan variabel waktu yang disimpan dalam memori pikiran.

Jadi, saat kita mencoba memecahkan masalah sebenarnya kita sedang membuat masalah yang baru. Logis ya.

Misalnya begini, contohnya gue deh, gue ada deadline paper untuk bulan depan. Sekitar tiga minggu lagi dari hari ini. Anggaplah ini masalah. Nah, terus saat kita menganggap ini masalah dan mencoba untuk menyelesaikannya, berarti ada berapa masalah ? Jadi dua.

  1. Masalah paper yang harus selesai dalam tiga minggu
  2. Bagaimana cara menyelesaikan paper dalam tiga minggu

Dan bisa saja, kita menambah panjang daftar masalah dengan memikirkannya. Terus dan terus. Bahkan kalau diperluas dua masalah di atas jadi bisa lima atau enam masalah lho, ๐Ÿ˜‰

Nah, itu salah satu contoh simulasi permasalahan dalam hidup dari kasus yang sedang gue alami. Nah, sebenarnya hakikatnya untuk setiap masalah itu sama.

Pada akhirnya, kita akan tersadar bahwa kita telah menambah panjang daftar masalah dengan memikirkannya

Melepaskan diri dari pikiran

Gue pernah belajar meditasi dulu banget waktu masih kuliah S2 di Yogya. Namun karena gue muslim, maka gue coba untuk melihat dari sudut pandang sholat.

Apa sih inti sholat ? Kalau diperhatikan setiap bacaannya sebenarnya adalah untuk melepaskan dari sempitnya persepsi manusia menuju persepsi yang tidak terbatas (baca : Tuhan).

Nah, itulah inti dari meditasi yang dulu pernah gue lakukan dan sholat yang sekarang gue lagi mencoba mendalami lagi.. (masih belajar dan banyak salahnya, hehe..). Ternyata hakikat sholat bukan hanya dari segi bacaan dan gerakannya, ada lagi yang tersembunyi dari sholat itu sendiri ๐Ÿ˜‰

Pada saat sholat, kita ‘dipaksa’ untuk melepaskan dari semua ego diri, pemikiran diri, atau apapun tentang diri kita sendiri. Ada sebuah ajakan halus di sana untuk ‘sejenak’ melupakan tentang aku dan hanya mengingat Alloh.

Sejak awal sholat dimulai dari niat sholat, menghadap kiblat, dan takbiratul ihram dan seterusnya.. Dan inilah inti dari sisi syari’at dan hakikat sholat..

Memaksa diri untuk mengerjakan semua tata cara syariat sholat untuk memahami bahwa pada hakikatnyaย  diri ini tiada bernilai sama sekali. Hanya Alloh Maha Segalanya

Menghilangnya sang ‘aku’

Nah, karena sang ‘aku’ sudah mulai menghilang..ย  maka disinilah muncul sebuah bimbingan kecerdasan dari Dzat yang Maha Cerdas. Nah, tapi hati-hati semuanya harus seimbang dan mendapatkan bimbingan dari guru yang tepat, biar tidak salah paham belajar yang seperti ini (Lihat tulisan saya tentang guru hidup, guru kitab suci, guru simbolis dan guru rahasia).

Inti permasalahan hidup adalah adanya aku yang mengalami masalah dan masalah itu sendiri. Aku menganggap ada masalah dan ada masalah yang harus aku selesaikan. Aku berkelahi dan bertengkar dengan masalah selama bertahun-tahun. Inilah hidup yang penuh konflik.

Untuk menghilangkan konflik dalam hidup, hilangkan aku maka tidak akan ada masalah ๐Ÿ˜‰

Menyatu dengan permasalahan hidup

Ketika aku tiada, berarti hanya ada masalah. Dan sampai disini sudah bagus. Karena tidak ada aku yang menghambat dalam menyelesaikan permasalahannya.

Kita tidak perlu menyelesaikan berbagai permasalahan. Bahkan banyak permasalahan tidak perlu diselesaikan. Biarkan saja, hehe.. sebagian besar masalah-masalah dalam hidup bukanlah masalah teknis seperti belajar, bekerja, sekolah dan sebagainya.

Masalah kita adalah masalah psikologis yang muncul dari ketakutan, self centered, kebingungan, dan perasaan-perasaan lain yang sering mencengkram dan membelenggu jiwa tanpa disadari. Cara menyadarinya gimana ? Ya, itu tadi sholat, dzikir dan ibadah-ibadah lainnya. Dari sini, gue baru sadar.

Alloh tidak membutuhkan ibadah kita namun justru kita yang membutuhkan ibadah kepada Tuhan. Tanpa kita ibadah pun, Alloh tetap Maha TInggi, Maha Suci, Maha Kaya, Maha Menguasai Segala Sesuatu. Jadi, satu atau dua orang yang ‘ingkar’ tidak akan mengubah apapun tentang Alloh. Tapi kita akan hancur baik secara psikologis dan fisik, jika kita tidak mau menyembah Alloh.

Banyak pikiran, banyak masalah, banyak hal-hal yang dapat membahayakan jiwa kita secara psikologis dan fisik. Jika kita tidak punya koneksi yang bagus dengan sumber sinyal kehidupan (baca : Tuhan), kita akan hancur cepat atau lambat. Kita yang membutuhkan Alloh, bukan sebaliknya..

Nah, saat kita sudah mulai menyadari permasalahan-permasalahan hidup itu pada hakikatnya adalah jiwa yang mulai jauh dari koneksi dengan Tuhan. Ayo, segera sambungkan sinyal masing-masing.. saatnya ada masalah, sesegera mungkin tanya kepada provider yang ada di pusat..

Hakikat masalah bukan untuk diselesaikan, melainkan kita harus menyatu dengan masalah-masalah itu. Menyatu dengan fisik, jiwa, dan ruh sekaligus. Dan juga menghubungi sumber sinyal kehidupan (baca : ibadah kepada Alloh)..

Waduh, ini bahasannya ketinggian bro, haha… semoga saya bisa melaksanakannya, Amiin… ๐Ÿ˜‰

Sumber gambar : www.pinterest.com

Menemukan makna kehidupan

2sFbF_kB

Sesaat setelah gue berbuka puasa, gue merenung sejenak.. Ya, mungkin dengan semua kesibukan gue sebagai mahasiswa dan juga suami dan insya Alloh yang sebentar lagi menjadi seorang ayah.. agak membuat diri semakin sibuk, hehe.. ๐Ÿ˜‰

Kehidupan yang ambigu

Terkadang gue sendiri bingung, untuk apa sih orang beramai-ramai mencari ketenaran, titel yang tinggi, kekayaan atau apapun itu jenisnya.. Ada lagi orang yang sibuk dengan membuat perkumpulan atau sejenisnya.. hmm..

Ya, tujuan hidup itu ambigu.. sisi abu-abu.. tidak jelas dan sifatnya jadi sangat subjektif tergantung kepada masing-masing individu maunya seperti apa. Ya, mungkin karena gue sendiri memilih jalan spiritual.. jadinya begini deh.. hehe

Tapi tunggu dulu, apa mungkin orang yang memilih jalur materialistis itu salah ? Atau orang yang memilih sistem kapitalis ? Atau demokrasi ? Dan berbagai ideologi ansich.. yang bertebaran..

Kenapa gue tidak ingin terburu-buru mengatakan bahwa jalan gue yang paling benar dan orang harus ikut dengan gue.. hmm.. karena bisa jadi jalan yang gue ambil adalah salah ๐Ÿ˜‰

Salah dan benar siapa yang tahu ? Nah, lhoo ???

Benar dan salah sejatinya itu..

Nah, kembali lagi kepada teori benar dan salah.. hmm.. sebenarnya siapa yang benar dan salah ??

Pertanyaan ini sudah berabad-abad yang lampau.. namun tidak ada yang bisa menjawabnya ๐Ÿ˜‰ Kenapa ? Karena saat kita mencoba mengenggam kebenaran itu dengan persepsi pikiran maka kebenaran itu sendiri yang akan hilang kesejatiannya..

Dan gue memahami konsep ini, saat gue masih kuliah di UGM dulu.. Intinya, kebenaran dan kesalahan itu mempunyai nilai yang relatif dalam skala pemikiran manusia.. Jadi ya, setiap pembenaran atau pemberian label salah dari seseorang kepada orang lainnya, itu sifatnya relatif dan tidak tetap..

Namun saat, kita melalui berbagai macam peristiwa kehidupan, ada ‘sesuatu’ dibalik semua peristiwa ini yang sedang mencoba memperkenalkan diriNya..

Kehidupan yang diluar batas kemampuan

Gue sendiri mengalami, setiap jejak kehidupan gue, selalu berada di luar batas kemampuan gue. Dengan tetap menghormati, orang yang mempunyai perbedaan pemahaman..

Dan gue menyadari bahwa gue selalu kalah, menyerah dan pasrah terhadap semua gelombang kehidupan ini.. Gue gak berdaya bro.. hehe,, tapi ‘Sesuatu’ itu selalu ada.. membantu, menolong, kadang menguji dan sebagainya..

Dan seiring berjalannya waktu, gue mulai mengenal kalau ‘Sesuatu’ ituย  adalah Tuhan yang berada di balik semua ini..

Secercah makna..

Dan mungkin, inilah sedikit makna yang ingin gue tulis di sini, sebagai kenang-kenangan di masa mendatang.

Normatifnya tujuan hidup adalah ibadah, tapi ibadah yang seperti apa dan kenapa harus ibadah ? Lagi-lagi, ini pun membutuhkan perjalanan untuk menjawabnya..

Setelah sekian lama, gue mulai memahami konsep ini..

Dan memang benar.. kalau tujuan hidup adalah untuk beribadah untuk Tuhan. Maka semua yang sedang kita kerjakan saat ini pada dasarnya adalah absurd dan akan mempunyai value saat disandarkan kepada objek dari ibadah itu yang menjadi tujuan akhir

Tujuan itu adalah Tuhan..

Mungkin ini adalah akhir perjalanan namun justruย  ini adalah awal perjalanan..

Ya, awal dari semua paper-paper yang akan ditulis sebagai salah satu kewajiban mahasiswa S3, awal dari kehidupan rumah tangga bersama istri, awal dari calon bayi yang akan mengisi hidup kami, awal dari karir yang entah akan seperti apa di masa mendatang..

Tapi dari awal ini, semua aku mulai memahami.. kenapa setiap Nabi di setiap zaman selalu mengingatkan hal ini..

Karena memang inilah makna yang tersembunyi dari kehidupan ini ๐Ÿ˜‰

Sumber gambar : @artikelkebahagiaan

Hakikat kehidupan adalah proposal

http://3.bp.blogspot.com/-ZxaxoEPZC-w/UK83wD_NtbI/AAAAAAAACF8/osmoj2Q4R00/s1600/proposal.jpg

Tulisan ini lahir saat gue sedang mengalami masalah dalam menulis proposal riset. Hmm.. banyak sekali kesulitan yang gue alami saat menulis proposal. What the hell ?? Kenapa kok sulit sekali menemukan statement of problem, objectives of research dan scope of study ?? Tapi lagi-lagi setiap permasalahan selalu menghadirkan guru yang sedang bersembunyi di sana ๐Ÿ˜‰

Hakikat kehidupan dimulai dengan proposal

Gue mulai menyadari kenapa ada hidup ? Dan kenapa hidup setiap orang berbeda-beda. Tuhan menciptakan kehidupan bukan dengan main-main. Itulah yang tertulis di kitab suci. Jadi Tuhan pun membuat sebuah propose saat menciptakan kehidupan.

Proposal dari Tuhan untuk manusia : Manusia diciptakan untuk beribadah (worship)

Melalui proposal inilah semua kehidupan dimulai, alkisah dulu sebelumnya tidak ada manusia. Sampai akhirnya Tuhan menciptakan manusia pertama Nabi Adam A.S. Dan saat malaikat dan iblis diperintahkan untuk bersujud. Malaikat patuh kepada Tuhan namun Iblis menolak.

Proposal dari Iblis kepada Tuhan : Menyesatkan manusia dari jalan Alloh

Nah, karena dua proposal inilah maka kehidupan dapat menjadi sekarang ini. Walaupun Tuhan menciptakan manusia dengan proposal untuk beribadah namun Tuhan memberikan kebebasan manusia untuk memilih. Mau beribadah boleh mau tidak pun boleh.

Proposal manusia kepada Tuhan

Setelah proses proposal Tuhan dan Iblis itu selesai dilaunching. Nah, sekarang giliran manusia memberikan proposalnya kepada Tuhan. Tuhan itu Maha Adil, Dia tidak otoriter tetap memberikan kebebasan namun ada konsekuensi dibalik kebebasan itu. Namun di satu sisi Tuhan Maha Otoriter, dia berkehendak terhadap segala sesuatu. Nah, polaritas sifat Tuhan inilah yang menjadikan Dia Maha Sempurna.

Manusia setiap hari memberikan banyak proposal kepada Tuhan. Ada yang mau mencari jodoh untuk menikah, bekerja, membeli rumah dan mobil, ke pasar, memasak, dan seterusnya.

Intinya, manusia itu memberikan banyak sekali proposal yang kalau dihitung setiap detiknya dikalikan dengan jumlah orang manusia di dunia sekitar 5 milyar proposal setiap detik. Kalau Tuhan itu terbatas niscaya dia akan pusing tujuh keliling menerima milyaran proposal itu setiap detiknya. Tapi Tuhan Maha Menguasai Langit dan Bumi, Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Tuhan selalu sibuk memeriksa, menyeleksi, mengabulkan atau mengganti proposal itu dengan sesuatu yang Lebih Baik.

Hakikat ini tersirat dalam kitab suci. Intinya, Tuhan pasti mengabulkan doa kita namun dikembalikan lagi kepada hakikat diri kita saat Tuhan akan mengabulkan doa kita. Hakikat diri ini sangat luas, dalam dan Rahasia. Sehingga hanya Tuhan yang Maha Mengetahui tentang hakikat diri kita.

Ingat dengan permintaan Nabi Musa A.S yang ingin melihat Tuhan (proposal), lalu Tuhan menjawab untuk melihat pada sebuah gunung. Jika gunung itu tetap pada tempatnya maka Nabi Musa dapat melihat Tuhan namun jika gunung itu hancur maka Nabi Musa tidak dapat melihat Tuhan. Maka saat Tuhan memperlihatkan diriNya kepada gunung maka gunung itu hancur dan bergetar. Inilah salah satu contoh cara Tuhan memproses permintaan kita.

Proposal kehidupan

Setiap proposal yang ditulis pasti akan dikerjakan dengan studi literature review, metodologi riset, pelaksaan penelitian, diskusi dan pembahasan. Kalau dilihat proses ini, analoginya sama dengan kehidupan kita sendiri.

Nah, literature review dalam kehidupan ini adalah kita membaca kitab suci. Dari proses ini, kita dapat mengetahui contoh contoh kehidupan yang telah lampau dan nilai-nilai apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Apa dampak di masa depan jika kita melakukan ini dan itu. Apa saja dasar pengambilan keputusan saat kita menghadapai situasi dalam hidup ini.

Metodologi riset berarti kita merancang rencana hidup. Di titik inilah, manusia akan merancanakan akan membeli rumah dengan harga sekian. Proses pendanaan akan melalui proses ini dan ini. Dan seterusnya. Metodologi riset berarti perancanaan hidup.

Pelaksaaan penelitian berarti kita sedang melaksanakan proses itu, di tahap ini manusia akan mengalami banyak hal, kendala, permasalahan, Tapi yang menyenangkan, mulai ada hasil yang terlihat berdasarkan metodologi yang telah dirancang sebelumnya. Hasilnya dapat berhasil atau gagal.

Hasil dan pembahasan, berarti kita sudah mendapatkan hasil dari proses kehidupan kita. Menjadi berhasil membeli rumah atau gagal. Kalau berhasil kenapa dan bagaimana, kalau gagal kenapa dapat gagal, faktor apa saja yang menyebabkan gagal. Di tahap inilah ada juga, tahap evaluasi dari penguji kehidupan ‘baca : Tuhan’ karena memang dari awal kita diciptakan untuk kembali kepada Tuhan.

Riset S3 adalah miniatur proposal kehidupan

Hakikat riset S3 yang saya jalani adalah mirip dengan proposal kehidupan. Jadi excited, apa kira-kira yang akan terjadi selama saya menempuh proses studi ini ?? Let us see together ๐Ÿ˜‰

Sumber gambar : riefsaz.blogspot.com

Perjalanan menemukan hakikat diri yang sejati

https://bradweesnerdesign.files.wordpress.com/2011/09/sun-rays-beaming-through-the-clouds.jpg

Well, udah beberapa hari ini gue super galau, haha.. entah kenapa terasa masuk lubang yang sangat dalam dan berputar-putar disana. Tak ada jalan keluar dan tak ada jalan untuk memutus siklusnya yang abadi..

Karena tak ada jalan keluar, gue pun tidak melawan dan pasrah ikut masuk arusnya yang gelap dan dalam tersebut ๐Ÿ˜‰

Guru simbolis yang bersembunyi

Gue kurang sadar akan adanya pengajaran dari Sang Maha Guru yang sedang memberikan kuliahNya. Melalui serangkaian lakon yang diberikan kepada orang-orang yang ada di sekeliling gue, gue pun mulai memahami ada sebuah skenario pembelajaran yang tersembunyi di sini,

Well, orang-orang yang ada di sekeliling gue hanyalah sebuah tanda-tanda (begitu kitab suci menyebutnya). Jadi sebenarnya ini semua tidak nyata, ada sesuatu yang seharusnya dapat diekstrak dari semua tanda-tanda ini.

Untuk itulah dibutuhkan password untuk membuka semua rahasia di atas rahasia ini, dibutuhkan IzinNya untuk membuka semua keruwetan dan kerumitan kehidupan.

Disinilah, kita akan menemukan Guru yang sedang bersembunyi di balik jubahNya, melalui serangkaian peristiwa yang ada dalam hidup. Guru itu sengaja membakar dan menggorengย  kita dalam panci penderitaan untuk melepas semua kepalsuan yang membelenggu diri kita yang sejati.

Tanpa semua peristiwa yang menyakitkan itulah, Guru tidak dapat menunjukkan kepada kita, “Hei, Aku adalah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu”

Langit pikiran yang mendung

Setiap kegalauan pikiran yang menggelayut, tak ada cahaya matahari kesadaran yang dapat menembus bumi kehidupan. Tak ada tanaman yang dapat hidup di bawah mendung kelabu persepsi.

Disitulah jiwa meraung-raung, menangis, mencari pembenaran. Namun tak ada satupun pembenaran yang ada. Karena segala sesuatunya adalah fana, tidak kekal dan tidak nyata

Jiwa pun terus berlari menyusuri setiap ruang ketidakpastian, masuk ke dalam setiap lubang sempit penderitaan dan pada akhirnya tunduk sujud kepada Guru yang selama ini ada di hadapan

Tanpa izinNya, cahaya bernama kesadaran itu tak akan dapat menembus kelabunya persepsi pikiran. Tanpa kuasaNya, tak akan ada secercah pencerahan batin yang bukan bersumber dari ego ataupun pikiran. Melainkan Segala Sesuatu adalah KehendakNya

Saat Dia menyatakan Jadilah!! Maka Jadilah Segala Sesuatu itu!!

Itulah, inti dari kenapa ada kelabu persepsi, jurang penderitaan dan kegelapan jiwa yang dialami semua insan.

Hakikat diri yang sejati

Alkisah, dulu di alam arwah, setiap ruh diberikan pengetahuan oleh Sang Guru. Sebuah rekaman dialog yang tercantum dalam kitab suci Al Qur’an :

“Bukankah aku ini Tuhanmu ?” Ya, kami bersaksi”

Disitulah pencerahan abadi datang kepada setiap Ruh yang akan turun ke dunia menjalankan misinya masing-masing. Inilah inti dari perjalanan diri,

Menemukan sebuah ruang kesadaran dalam diri yang mengakui bahwa Dia adalah Tuhan dan kita bukan siapa-siapa

Sayang sekali, lima unsur yang ada di dunia, air,tanah,api,angin dan eter telah menciptakan belenggu terhadap Ruh yang telah bersaksi dan bersujud dengan pasrah dihadapan Tuhan.

Mulailah muncul, Aku, ini hartaku, ini kepintaranku, ini milikku, dan semua hal tentang aku. Lantas disinilah awal ketidaksejatian itu terjadi. Saat aku mulai muncul dalam hidup dan menjadi Tuhan yang baru.

Padahal kitab suci sudah menyatakan bahwa Tuhan itu Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia. Semua Tuhan-Tuhan buatan yang dibuat oleh aku akan hancur binasa. Itulah janji Tuhan dalam kitab suci. Hanya Tuhan yang memilik Arasy yang agung yang akan menang. Tuhan yang menguasai langit yang tujuh dan bumi yang akan berkuasa, Tuhan yang memegang jiwa manusia ketika sedang tidur dan akan mengembalikannya kembali saat manusia bangun.

Mengenal hakikat diri yang sejati

Ma’rifat (mengenal) adalah awal perjalanan dan berserah diri (islam) adalah akhir perjalanan. Inilah maksud dari semua hal ini, kenapa ada penderitaan, kenapa ada kegelapan, kegalauan, dan semua kekacauan dalam kehidupan manusia.

Agar diri ini sujud kepadaNya, berserah kepadaNya, menyerah kepadaNya dan menangis kepadaNya. Menyerahkan hidup, mati, pekerjaan, keluarga dan rezeki kepadaNya.

Itulah akhir dari proses pengenalan diri yang sejati, berserah diri (islam).

Sumber gambar : sluthate.com