Guru rahasia kehidupan

Suatu ketika, ada seseorang yang sangat mendambakan mendapatkan pasangan yang ideal (ganteng/cantik, karir mapan, penghasilan yang besar, investasi properti yang bagus). Namun, benar saja, ternyata pasangannya tidak seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Jauh dari pengharapan.. sangat berbeda dengan diriku yang bla.. bla..

Lain cerita, seseorang yang menginginkan karir yang mapan, semua upaya sudah dilakukan untuk menghadapi tes tersebut.  Bahkan rekomendasi sudah didapatkan. Dan alhasil, nilai tes tahap  pertama pun sangat memuaskan. Namun, langkahnya harus terhenti karena ada ‘gesekan’ dari internal instansi yang dilamar. Dan benar saja, harapannya pupus di tengah jalan..

Di  salah satu sudut ruang  kehidupan, ada seseorang yang mendapatkan promosi karir yang  cukup menjanjikan dalam hidupnya. Harapannya, jika proyek promosi  karir ini berjalan lancar maka  ia akan mendapatkan pengakuan  yang cukup bergengsi dalam karir tersebut. Bayangan indah bahwa promosi karir tersebut akan membawa kedigjayaan, kemapanan, dan kecemerlangan masa depan.. harus berantakan di tengah perjalanan.. tak mudah lho bro/sis, mendapatkan promosi karir tersebut.. berbagai halangan, konflik eksternal dan  internal, bahkan dianggap ‘remeh’ oleh atasan sendiri..

Ucapan selamat datang dari kehidupan

Begitulah ruang kehidupan yang penuh dengan konflik psikologis, ambisi pribadi, dan trik politik telah mewarnai kehidupan sejak dahulu sekali.. jadi ini bukan yang pertama kali terjadi, atau jika ini pertama kali terjadi dalam hidup Anda, welcome to the life.. hehe 

Rasa kaget mungkin kali ya, kalau yang pertama kali mengalami.. lho  kok bisa gitu sih, kenapa harus terjadi sama gue  sih, apa salah gue sampai gue  harus mengalami semua ini¸atau kalau yang sudah mengalami berkali-kali, gpp, kita senasib bro dengan jutaan atau bahkan milyaran orang di dunia ini, haha..

Kita boleh saja melarikan diri dari semua kenyataan itu,  boleh-boleh saja, silahkan.. ada banyak sarana untuk melarikan diri dari kenyataan, mulai dari yang  positif sampai yang negatif.. namun melarikan diri dari semua itu tidak akan mengubah kenyataan hidup. Gue pun dulu berfikir, emang kenapa sih hidup gitu-gitu amat, namun semakin  lama  menggali dan menyelami, gue pun sampai pada tahapan kesimpulan

Well, this life full of people who want to get everything that they want, whatever the way it is..

This life consist of many people who have different character, family background, preferences, and hidden motives.. so, it  is normal to find that the people may not fully satisfy yourself..

The reality of life, filled by some people who have stiff thought and inconsiderate feeling.. so, it is okay to acquire such treatment from others..

Tanda – tanda yang tersembunyi

Guru-guru bijak yang ada di seluruh dunia selalu mengingatkan ‘ada pelajaran tersembunyi pada setiap peristiwa kehidupan’.. berbekal dari pesan tersebut, gue pun mencoba menyelami semua  peristiwa yang telah terjadi dengan hati dan pikiran yang jernih..

Dan benar saja, saat sedang menyelami berbagai macam  persoalan tersebut, gue melihat ada sebuah pohon  yang sedang berbunga, namun bunganya jatuh satu persatu ke tanah.. gue pun bertemu banyak burung yang sedang terbang dari satu pohon ke pohon yang lain, dan terakhir gue ketemu  sama empus yang lagi bobo siang, enak banget, hahaha..

Lain waktu, gue sedang olahraga di taman tasik deket  rumah gue di KL, gue lihat ada bebek yang lagi berenang di danau..  di saat yang sama dedaunan yang berwarna kehijauan dan kekuningan jatuh di dekat gue.. kura-kura berenang sambil menyelam dekat gue, dan ikan-ikan bergerombol di pinggir danau.. tiba-tiba, gue menyadari sesuatu

Meminjam istilah dari Pak  Gede Prama,

Pohon damai  menjadi  pohon, buktinya mereka tidak pernah  protes, burung bahagia menjadi burung, buktinya mereka selalu bernyanyi, kalau pohon damai menjadi pohon dan burung bahagia menjadi burung,  kenapa manusia tidak bahagia menjadi manusia ?

Kalau gue sendiri  cuma ingin menambahkan beberapa kalimat,

Kucing tidur dengan nyaman saat lapar, sakit atau bahkan kedinginan.. kenapa manusia tidak dapat menerima setiap kondisi kehidupan dengan sederhana..sesederhana kucing yang tidur di siang hari.. sesederhana bebek  yang berenang di  danau, dan sesederhana dedaunan yang jatuh tertiup angin..   

Sesederhana itulah kehidupan 🙂    

Tangga spiritual kehidupan

Semakin menyelami kehidupan dengan seluruh dualitas (baik-buruk, benar-salah, dsb), konflik internal diri dan eksternal, dan berbagai masalah-masalah kehidupan.. gue pun menemukan, setiap  hal  yang hadir di dalam kehidupan kita  adalah bimbingan ‘khusus’ dari guru-guru kehidupan.. berdasarkan jalan spiritual  yang saya tekuni, ada beberapa tangga spiritual seseorang  dalam bertemu  dengan guru kehidupan :

  1. Petarung kehidupan

Bisa saja sih, kita menolak  semua itu dengan mengatakan begini dan begitu… melakukan begini  dan begitu.. awalnya muncul solusi, terus kita akan semangat, nah kan bener pasti ada solusinya, terus melakukan tindakan lagi terus gagal, ga papa masih bisa diusahakan, kemudian kita berusaha lagi dan berhasil lagi di satu waktu, yes gue berhasil dan ternyata apes di lain waktu..

Kondisi psikologis juga naik dan turun saat ini. Saat berhasil bangga, gue berhasil yes.. saat gagal, galau sial gue  galau.. begitu seterusnya..

  1. Mulai menapaki puncak spiritual

Tatkala manusia mulai mencapai puncak spiritual, kita akan menemukan bahwa ada satu  titik manusia merasa jenuh dan bosan dengan semua keberhasilannya atau sebaliknya, dia merasa jenuh, stress dan depresi dengan semua kegagalannya. Agak beda jalannya, tapi sebenarnya mereka sama-sama memasuki  puncak tangga spiritual

  1. Sampai pada puncak spiritual

Setelah sekian lama menyusuri malam-malam gelap jiwa (baca : ketakutan, stress, depresi, kegagalan, penolakan dll), dan setelah  menyelami cerahnya cuaca jiwa (baca : kebahagiaan, keberhasilan, penerimaan, dll), maka  jiwa akan sampai di puncak gunung spiritual..

Apa  yang ada di puncak  ini ? Jawabannya adalah cinta yang tulus dan sederhana 🙂

Orang yang sampai pada titik ini, akan melihat setiap warna kehidupan sebagai pelangi yang indah,  perbedaan karakter keluarga sebagai taman bunga yang indah, dan setiap ruang dalam diri apakah itu ruang  yang ‘terang’ dan ‘gelap’ sebagai rumah yang indah untuk istirahat..

Ilustrasi pada titik ini adalah

Bebek berenang di danau, ikan berenang di air, pohon  bertumbuh di tanah, lumut tumbuh di tanah lembab, setiap tempat adalah tempat yang sempurna untuk bertumbuh dalam kehidupan..

Bunga yang indah mekar namun di saat yang sama bunga harus jatuh ke tanah sebagai sampah, pohon tumbuh besar dan indah dengan jutaan dedaunan yang hijau, namun jutaan juga dedaunan kering yang jatuh ke tanah.. begitulah kehidupan.. bunga, pepohonan dan sampah adalah gerak kehidupan yang sempurna..

Berjumpa guru rahasia

Setelah mencapai puncak gunung spiritual, maka seorang pejalan akan dapat berjumpa dengan guru rahasia yang ada di dalam kehidupan..

Ilustrasi saat berjumpa dengan  guru rahasia kehidupan adalah seperti ini :

Tatkala gelap malam sirna ditandai dengan terbitnya mentari secara perlahan dan di saat yang sama diri berjumpa dengan matahari yang ada di ‘dalam’ diri, maka pada saat itulah mungkin kita akan menemukan guru rahasia

Selamat datang di kehidupan, selamat menjalani hidup, happy new year 2018, semoga tahun ini menjadi  perjalanan spiritual yang indah 🙂

Sumber gambar : https://petlogue.com

Hakikat kehidupan (part 2)

Hasil gambar untuk roda kehidupan

Sebelumnya gue pernah menulis hakikat kehidupan (part 1) saat gue menghadapi permasalahan berat. Sekarang masalah masih ada, dan akan tetap ada, selama ada kehidupan. Gue mencoba untuk menyelami setiap kerangka dari permasalahan, melihat esensinya dan kemudian mencoba untuk mencari solusinya. Makanya di awal tulisan, gue bisa bilang, apakah hakikat kehidupan ? MASALAH 😉

Menemukan obat dari racun kehidupan (baca : masalah)

Memang penderitaan itu menyakitkan, Baru  aja gue membaca sebuah data dari WHO yang menyebutkan bahwa pada tahun 2010 kasus bunuh diri di indonesia sebesar 5000 orang pertahun. Lalu terjadi peningkatan pada tahun 2012, peningkatan kasus bunuh diri sebesar 10000 orang pertahun. Lagi-lagi ini merupakan sebuah pertanda bahwa ada yang salah dengan kehidupan ini..

Racun kehidupan (baca : masalah) itu nyata bahwa ada pada diri setiap orang, hanya saja potensinya dapat meningkat tergantung kepada situasi dan kondisi setiap orang. Dan anehnya, persepsi setiap orang dari masalah itu berbeda-beda. Seorang mahasiswa akan memandang permasalahan kampus sebagai yang paling berat, seorang pegawai akan melihat permasalahan kerja adalah yang paling berat, seorang ayah akan memandang permasalahan keluarga adalah yang paling berat.

Dan kalau diteruskan lagi, setiap sisi dari kehidupan selalu mempunyai masalah. Setiap sudut kehidupan selalu berisi masalah, anehnya semua sisi kehidupan adalah masalah. Kita diberikan oleh Tuhan untuk memilih cara kita dalam menyelesaikan masalah. Ada yang mencoba untuk menyelesaikan masalah dengan bertengkar secara fisik maupun hukum, ada yang mencoba menyelesaikan masalah dengan cara yang licik, menipu, ada yang mencoba menyelesaikan masalah dengan uang, dan sebagainya.. intinya setiap orang mempunyai pilihan yang berbeda dalam menyelesaikan masalah 😉

Menyelesaikan masalah

Untuk dapat menyelesaikan masalah kehidupan, kita harus tahu masalah itu apa ? Kalau boleh membuat model dari masalah hidup, kita dapat memformulasikan model masalah hidup 😉 melalui pendekatan kualitatif seperti di bawah ini

Seperti dilihat pada gambar di atas secara umum dua faktor subyek masalah kehidupan itu diri sendirid dan orang lain/sosial. Nah, faktor-faktor secara obyek dari masalah kehidupan itu ada empat yaitu keluarga, karir, finansial dan kesehatan. Keempat faktor ini, menurut gue saling tumpang tindih dan efeknya pada setiap orang dan sosial dapat berbeda-beda. Dua faktor internal dari sisi pribadi dan sosial menurut gue adalah masalah fisik (yang kelihatan) dan masalah psikologis (ga kelihatan)

Faktor-faktor masalah kehidupan akan saling berinteraksi, berbenturan bahkan saling bertolak belakang. Nah, pemahaman faktor-faktor ini akan sangat ditentukan oleh kejelian kita dalam memahami masalah, merenungkan masalah dan mencari akar dari permasalahan

Menghadapi masalah kehidupan

Salah satu tanda kedewasaan adalah mampu menghadapi masalah. Namun bukan berarti kedewasaan dapat menyelesaikan semua masalah. Kedewasaan hanya menyiapkan wadah mental bagi kita untuk memperluas seluas-luasnya berbagai macam kemungkinan yang terjadi dalam penyelesaian masalah. Dewasa disini dapat dibedakan menjadi dewasa secara fisik (badan besar, organ reproduksi mulai aktif, hormon mulai diproduksi oleh tubuh) dan dewasa secara jiwa (mental yang matang, kemampuan untuk tetap tenang saat masalah datang dan mencari solusi, ikhlas terhadap kehidupan, dsb).

Langkah pertama dalam menghadapi masalah adalah jangan lari dari masalah, hadapi. Bukan berarti nantangin yaa ;-), maksudnya adalah secara fisik (hadirnya kita) dan secara psikologis (jiwa), kita menghadapi masalah itu secara utuh, menyelami masalah tersebut dengan tenang. Tentunya kecemasan adalah hal yang wajar dalam menghadapi masalah, dan itulah seninya, ketenangan dalam kepanikan 😉

Seperti yang dijelaskan oleh Jiddu Khrisnamurti dalam Buku Kehidupan, kita perlu untuk menyimak  dan menyelami masalah-masalah kita tanpa persepsi, konsepsi, prasangka, atau pikiran masa lampau (pengalaman). Sebisa mungkin saat pertama kali menghadapi masalah adalah menghadapinya secara langsung secara psikologis tanpa apapun. No psychological defense in facing the problem for the first time. Kenapa ? Beban psikologis dari masa lampau (pengalaman masa lalu, konsep, pendapat si A, si B atau siapapun, prasangka) hanya akan menutupi mata kita dari permasalahan yang sebenarnya. Jadi, langkah kedua adalah lihatlah masalah tanpa pikiran psikologis 😉

Langkah ketika, mulai memformulasikan masalah berdasarkan faktor-faktor dari model masalah kehidupan yang ada. Apa masalahnya ? Karir/pendidikan ? Keluarga ? Finansial ? atau Kesehatan ? Lalu siapa subyek yang terlibat dalam masalah ini ? Diri sendiri ? Fisik atau psikologis ? Orang lain/sosial ? Fisik atau psikologis ? Dan seterusnya, buatlah masalah itu sejelas mungkin dan setajam mungkin. Artinya, kita tidak akan sampai pada titik ini kalau kita lari dari masalah atau membuat persepsi awal dari masalah tanpa melihat objek masalah.

Langkah keempat, setelah kita memformulasikan masalahnya apa, barulah kita membuat solusinya, tentunya saat membuat solusi harus dipertimbangkan juga sisi resikonya, kalau A bagaimana resikonya kalau B bagaimana resikonya..

Sumber gambar : https://www.inspirasi.co

Buku Kehidupan (part 1 : Menyimak) by Jiddu Khrisnamurti

Gue dapat ide saat membaca buku yang ditulis oleh Jiddu Khrisnamurti, seorang guru spiritual yang terkenal dengan ide-ide filosofisnya tentang kehidupan. Saat gue S2 di UGM dulu, gue sangat sering membaca karya-karya beliau. Nah, pas lagi lanjut S3, tiba-tiba gue kangen dan rindu lagi pengen membaca dan menelaah karya-karya beliau (hasil dari pengangguran menjadi mahasiswa,wkwkwkwk).

Menyimak tanpa konsep, keinginan, cita-cita, prasangka atau daya upaya 

Di bagian pertama ini, Khrisnamurti mengajak kita untuk menyimak. Kalau gue sih, menangkap di bagian ini, kita dianjurkan untuk melakukan perenungan atau meditasi terhadap segala hal yang terjadi dalam hidup kita sendiri tanpa prasangka atau konsep apapun. Menyimak tanpa terkungkung alur yang sempit (baca : persepsi pikiran atau konsep teori). Menyimak dengan nyaman tanpa tegang, ambisi menjadi ini dan itu, atau cita-cita. Dari proses menyimak ini akan didapatkan sebuah proses perubahan yang terjadi dengan sendirinya dan kedalaman proses pencerahan.

Apa yang disimak ? Segala hal. Ketakutan, kesedihan, kebahagiaan, kesialan, dendam, kebajikan, dan berbagai pikiran atau perasaan dari diri kita sendiri. Dari luar diri kita, menyimak suara tangisan bayi, bunyi angin, detak jam dinding, suara rekan kerja, suara guru yang mengajar, suara atasan yang pemarah, dan sebagainya. Menurut Jiddu Khrisnamurti, kita tidak pernah benar-benar menyimak. Karena saat menyimak selalu ada pikiran atau perasaan yang menyela sehingga kita tidak benar-benar menyimak. Untuk menyimak diperlukan adanya keheningan di dalam, perhatian yang penuh namun rileks. Keadaan yang waspada namun pasif ini akan dapat menemukan sesuatu yang diluar kata-kata.

Kata-kata itu terbatas, hanya merupakan buah dari pikiran atau perasaan. Kata-kata itu bukan realitas, realitas melampaui kata-kata. Menyimak yang murni tidak melalui pikiran, perasaan apalagi kata. Menyimak secara langsung dan murni yang berarti kita berhubungan sesuatu dengan realitas. Menyimak goncangan batin kita, menyimak konflik-konflik batin, menyimak semua kontradiksi yang ada dalam diri kita sendiri tanpa memaksakannya ke dalam sebuah teori atau gagasan tertentu. Saat kita menyimak tanpa ada keinginan apapun terhadap konflik atau kontradiksi batin, akan mempermudah konflik itu berakhir.

Lihat saja, batin kita, secara psikologis kita selalu sibuk. Ingin menjadi ini dan itu, mengejar cita-cita, bertempur dengan si anu, sehingga psikologis kita selalu sibuk, tak pernah hening. Kita selalu berusaha untuk mencapai kondisi atau pencapai tertentu baik secara materi maupun spiritual. Mencoba untuk menangkap sebuah pengalaman lalu mendogma dalam pikiran dan menolak pengalaman yang lain. Akibatnya pertempuran, konflik dan kontradiksi dalam batin selalu terjadi tak pernah beristirahat. Bersikaplah sederhana, jangan mencoba menjadi sesuatu atau menangkap suatu pengalaman.

Menyimaklah tanpa upaya, dan jika ada kebenaran dari proses penyimakan itu. Akan terjadi perubahan dalam diri kita yang bukan dibuat-buat oleh kita. Melainkan kita disadarkan oleh proses menyimak itu sendiri. Kita disadarkan oleh kebenaran itu sendiri. Semakin banyak kita menyimak segala sesuatu, semakin besar keheningan dan lalu keheningan itu tidak terputus oleh keheningan. Hanya jika kita menciptakan penghalang antara apa yang kita simak dengan apa yang tidak mau kita simak, disitulah terdapat pergulatan, konflik dan kontradiksi dalam batin.

Sumber gambar : http://adskproject.blogspot.co.id

Perjalanan spiritual bersama Guru Zuhdi di Banjarmasin

Hasil gambar untuk masjid sabilal muhtadin

Atas takdir Alloh, gue diberikan kesempatan dua kali untuk hadir di ceramah beliau saat gue di banjarmasin. Dua kali ceramah beliau, gue merasa nyambung dan cocok sama pembelajaran yang telah diberikan oleh Guru Zuhdi. Alhamdulillah materinya nyambung sama materi Abah Guru Djamhar (http://abahdjamhar.com/), pendiri MURRI (Mahabbah Umat Rasulullah Republik Indonesia, Majelis Danqow, Majelis Bedah Ruhani). Gue juga menggabungkan pembelajaran materi dari Guru Gede Prama, maklum pada pelajaran spiritualitas, semua guru akan bermuara pada satu titik yang sama. Dari Guru Zuhdi, gue mendapatkan dua pelajaran yang penting

Menyelami diri, memahami sombong (ujub)

Pelajaran pertama dari Guru Zuhdi adalah tentang ujub. Hakikat dari ujub adalah merasa bahwa ilmu, kemampuan, jabatan adalah berasal dari ‘aku’. Siapa sang aku ? Aku ini adalah diri kita namun bukan aku yang sejati melainkan aku berupa ‘ego’, ‘nafsu’ dan ‘keinginan’.

Merasa hebat bahwa aku ini dapat belajar agama, merasa tinggi dihadapan orang lain karena pendidikan yang lebih baik dari orang lain, merasa mampu daripada orang lain karena punya pekerjaan yang baik. Meremehkan orang lain dan menganggap diri lebih hebat dari orang lain.

Perhatikan struktur logika dari ujub atau sombong dalam diri manusia :

(aku) –> (sesuatu yang merasa dimiliki oleh kita) –> orang lain

Ada tiga hal tentang ujub yaitu aku, sesuatu yang dimiliki, dan orang lain. Tatkala ketiga unsur ini dimiliki oleh seseorang maka dapat dipastikan bahwa dia mempunyai POTENSI untuk ujub. Namun hakikat ujub sendiri bukanlah orang lain, orang lain disini hanya sebagai objek tujuan dari sang aku. Tentu hakikat ujub adalah SANG AKU yang MERASA MEMILIKI SESUATU.

SESUATU disini dapat diartikan sebagai ilmu agama, pendidikan, kekayaan, pekerjaan, dan sebagainya. Walaupun sebenarnya SESUATU itu hal yang lumrah dimiliki oleh seseorang, dan tidak lantas karena seseorang memiliki SESUATU lantas ia menjadi UJUB. Dampak psikologis dari UJUB adalah

  • Merasa khawatir bahwa sesuatu akan ditolak atau diambil oleh orang lain
  • Merasa tidak tenang hidupnya karena hakikat segala sesuatu adalah tidak kekal. Padahal orang UJUB pengennya sesuatu itu kekal. Lha, kan repot jadinya, hehe 😉
  • Ketidakbahagiaan dalam hidup karena hakikat segala sesuatu adalah milik Alloh, lha ini ngaku-ngaku memiliki padahal kita ga punya apa-apa dalam hidup
  • Merasa selalu tegang, karena segala sesuatu punya jalannya masing-masing, misalnya pekerjaaan bisa berhasil dan gagal. Kita hanya dapat berusaha yang terbaik sisanya  pasrah. Orang UJUB ga mau sesuatu itu gagal, harus berhasil apapun caranya sehingga psikologisnya menjadi tegang karena ingin segala sesuatunya sesuai dengan kehendak kita

Uniknya Guru Zuhdi dan Abah Guru Djamhar mempunyai solusi yang sama tentang UJUB

Apabila kalian melihat segala sesuatu itu datangnya dari Alloh SWT yang menolong kalian untuk dapat melakukan perbuatan-perbuatan baik maka paa saat itu kalian sudah selamat dari penyakit UJUB (bangga diri or sum’ah)

Memahami hakikat dunia

Pada ceramah berikutnya, beliau menjelaskan tentang hakikat dunia. Ada tiga hakikat dunia yaitu Harta, Jabatan dan Makhluk. Ya, tiga hal itulah yang selalu menjerat pikiran dan hati kita sehingga tidak lurus lagi kepada Alloh.

Harta

Ya, semua orang butuh uang, termasuk gue hehe… tapi tatkala menjadi tujuan hidup adalah untuk mencari harta tanpa memahami proses yang wajar serta halal dan baik maka itu sudah warning 😉

Ada sebuah cerita begini, tatkala seseorang masih naik bus, angkot dan ojek kemana-mana. Sering mengeluh, kepanasan, kehujanan, senggol-senggolan sama orang, sempit, pengap dan sebagainya. Akhirnya seseorang itu dapat membeli mobil. Nah, tatkala seseorang sudah membeli mobil akan muncul penderitaan baru, takut mobilnya dicuri, khawatir setiap bulan karena harus bayar cicilan mobil, kemana-mana selalu kepikiran biar mobilnya aman (ceramah Guru Gede Prama)

Kalau ga punya rumah ya, sudah terima saja. Bersyukur, kalau ga punya mobil ya sudah bersyukur. Mendingan beli mobil-mobilan dari pada pusing kejar harta sana-sini supaya punya mobil (ceramah Guru Zuhdi)

Sebenarnya ga ada yang salah dalam mencari harta selama masih wajar dan sesuai dengan batas kemampuan. Hutang pun sebenarnya kadang tidak dapat dihindari dalam hidup hanya saja usahakan sesuai dengan penghasilan, cicilan dapat dibayar dan sedapat mungkin cari hutang non-bunga atau bunga dengan jumlah yang minimum. Namun tatkala sudah melampaui batas, jadi ga sehat untuk psikologis kita sendiri 😉

Ada pengalaman pribadi yang akan coba gue berikan nanti di tulisan selanjutnya 😉

Jabatan

Semua orang pengen jabatan, mulai dari yang kerja di kantoran, kampus, kontraktor, dan wiraswasta. Entah itu jabatan fungsional di tempat kerja atau jabatan sebagai orang yang terpandang di masyarakat. Intinya adalah jabatan 😉

Ada cerita menarik, tatkala menjadi pegawai rendahan, pengen punya jabatan, supervisor aja.. minimal supervisor. Paling enggak di kartu nama ada tulisannya jabatan. Tatkala punya jabatan, pusing kepala, karena ngurusin orang. Senyum kerja ga jalan, marah-marah dibikin surat kaleng 😉 (ceramah Guru Gede Prama) 

Jabatan pun sebenarnya ga ada masalah, boleh selama sesuai dengan kapasitas diri, dan tidak menyalahgunakan jabatan. Tatkala jabatan menjadi tujuan dan menggunakan segala cara, maka inilah yang sudah melampaui batas. Bersyukur, menerima dengan gaji dan jabatan yang ada akan lebih baik daripada menggunakan cara-cara yang buruk dalam mendapatkannya.

Secara pribadi, gue belum mendapatkan pengalaman langsung disini, maklum pegawai biasa 😉

Makhluk

Hakikat kehidupan yang ketiga adalah makhluk. Sebenarnya masih ada hubungannya dengan hakikat ujub. Di sini, artinya makhluk sebagai tujuan. Pengen dapet pujian makhluk, pengen mendapatkan gelar dari makhluk, dan pengen sesuatu kita dapatkan dari makhluk. Akhirnya, hidup jadi membingungkan karena bukan Alloh lagi tujuannya tetapi makhluk. Pikiran dan hati akan terkuras energinya untuk mencari simpati makhluk. Bukan bekerja secara objektif dan professional melainkan akan mencari bagaimana caranya supaya makhluk itu menerima hasil kerja kita.

Dampak psikologis dari bertujuan kepada makhluk adalah

  1. Bingung

Tatkala makhluk menjadi tujuan maka kita akan bingung. Ini pengalaman gue sendiri nih, emang pada awalnya kita ingin menyenangkan atasan tapi lama kelamaan akan bingung. Bukan objektifitas malah subjektifitas yang dibangung. Memang seperti yang gue katakan ada seni dalam bekerja tapi menjadikan makhluk sebagai tujuan segala-segalanya adalah salah juga. Perlu ada kebijaksanaan di dalam sini.

Dalam sudut pandang spiritualitas, fokus ke Alloh saja. Biarin saja pendapat-pendapat orang itu. Biar Alloh yang membayar hasil-hasil kerja kita. Selain pikiran lebih fokus, rileks, dan kita siap dengan berbagai macam kemungkinan termasuk kemungkinan yang paling buruk sekalipun.

2. Sumbu pendek

Karena terlalu bertujuan kepada makhluk, seolah semua persepsi, tujuan hidup, mati, nafas itu tertuju kepada makhluk. Hasilnya sumbu pendek (a.k.a persepsi sempit). Hidup perlu disikapi dengan melihat berbagai macam sisi, objektif dan subjektif, hitam-putih, baik-buruk. Nah, kalau sudah terkena penyakit makhluk ini ni.. jadinya hidup jadi sempit, gampang marah, gampang galau, gampang jatuh dan sebagainya..

3. Dendam

Karena makhluk penuh dengan subjektivitas akhirnya sisi objektif dalam bekerja tidak tercapai. Akhirnya karena udah capek kerjain yang bener-bener, eh tiba-tiba revisi hahaha.. (this is what I mean), kalau kita bertujuan kepada makhluk pasti akan dendam banget itu. Karena benturan subjektif dari A kepada B sehingga lantas karena benturan perlu ada salah satu pihak yang mengalah atau dikalahkan. Rasanya itu sakitnya disini bro, hahaha

Makanya jangan bertujuan kepada makhluk, udah tau salah hehe 😉

Intinya dari Guru Zuhdi adalah tujuan hanya kepada Alloh bukan kepada selain Alloh. (Iya sih, bener juga. Hidup itu simple-simple aja tapi kenapa susah mengimplementasikannya ya 😉 )

Sumber gambar : http://pulaubanuabanjar.com

Meditasi bulan purnama oleh Gede Prama

Gue pernah download salah satu video ceramah yang cukup menarik untuk para pencari spiritual 😉 Tema ceramah itu adalah meditasi bulan purnama (Full moon meditation), Pak Gede Prama adalah pengisi dari acara tersebut. Sebenarnya kegiatan ini sudah dilaksanakan pada tahun 2011, sudah cukup lama sih. Tapi gue suka banget nonton video ini walau sudah gue tonton berulang-ulang 😉 Meditasi disini dibagi menjadi beberapa tahapan dan puncaknya adalah memahami bulan purnama. Gue akan coba buat resensi dari ceramah motivasi oleh beliau dan gue juga taut link beliau (http://gedeprama.blogdetik.com) . Semoga bermanfaat untuk gue sendiri dan orang lain yang membacanya 😉

  1. Manusia yang mencari sapi

Tahapan ini dimulai dengan tanda kebingungan, stress, galau, dendam, dan berbagai macam emosi negatif lainnya. Ditahap ini, manusia mulai mencari sesuatu dalam kehidupan dunia ini. Orang miskin bingung karena kurang uang, orang kaya pun gelisah khawatir bisnisnya rugi, tidak berhasil. Orang yang belum punya pekerjaan bingung mencari kerja, orang yang sudah bekerja juga bingung karena tidak cocok dengan atasan, mengeluh gaji kecil. Orang-orang yang jomblo bingung mencari pacar, sementara saat sudah mendapatkan pacar, malah bertengkar dengan pacarnya, cemburu, merasa tidak cocok. Apalagi setelah menikah, kita malah bertengkar dengan pasangan, mengeluh kesulitan ekonomi dan seterusnya.. intinya hidup itu bingung… bingung… 😉

Pengalaman pribadi gue, tatkala belum studi S3, bingung cari beasiswa kemana-mana. Galau, pengen sekolah S3 apapun caranya. Berbagai situs beasiswa, gue cari tahu dan daftar. Eh, tatkala udah sekolah S3 dan dapet beasiswa, mengeluh susah, ga passion dan seterusnya, akhirnya gue pengen kerja tapi ga bisa karena udah terlanjur, begini nih, hidup manusia seperti gue ini, hahahaha

Kesimpulannya sederhana, setiap kondisi dalam hidup kita selalu menimbulkan kebingungan dalam diri kita. Dan tatkala kita mencapai kondisi yang diinginkan, akan muncul penderitaan baru. Dan itu terjadi terus menerus dan berulang-ulang. Kita merasa ada yang kurang dalam kehidupan materi, apa yang kurang ? Kenapa hidup selalu diisi penderitaan padahal kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan

2. Menemukan jejak-jejak kaki

Tatkala hidup membingungkan, kesialan terus melanda, badan sakit-sakitan, selalu dikecewakan orang lain dan sebagainya. Rasa sakit membuat kita memasuki gerbang spiritual mendalam, kita lantas mulai membaca buku suci (kitab suci), mulai membaca riwayat kehidupan orang suci (Nabi, Rasul, Wali, Guru), mulai rindu bertemu dengan guru secara langsung dan mulai mencari komunitas spiritual. Inilah yang dimaksud dengan Pak Gede Prama dengan jejak-jejak kaki, ternyata manusia berabad-abad yang lampau pernah melangkah di jalur ini 😉

3. Menemukan sapi ‘pikiran’

Saat menemukan jejak-jejak kaki, kita mulai melangkah mengikuti jejak-jejak tersebut. Hingga akhirnya menemukan bahwa jejak-jejak kaki yang kita ikuti ternyata adalah sapi ‘pikiran’. Akhirnya muncul kesadaran bahwa sumber penderitaan adalah pikiran yang liar seperti simbol sapi.

Karena pikiran inilah, banyak uang akan menyebabkan penderitaan, misalnya takut kehilangan pekerjaan, takut hartanya dicuri, takut investasinya rugi. Karena pikiran juga, tidak punya uang juga akan menderita, bingung mau makan apa, belum punya rumah, ada keluarga yang perlu diberi nafkah, dan sebagainya.

Ditahap inilah, kita perlu menyadari bahwa pikiran perlu untuk dilatih sehingga tidak liar seperti simbol sapi. Namun jangan memaksa supaya pikiran tidak liar. Karena dengan memaksa malah menimbulkan konflik psikologis yang baru. Perlahan-lahan melalui meditasi, dzikir, sholat, sembahyang, dan sebagainya. Kita mencoba untuk membuat pikiran menjadi tenang..

4. Tarik-menarik dengan sapi ‘pikiran’

Di tahap ini, kita mulai mengendalikan pikiran sehingga kita akan Tarik-menarik dengan sapinya. Di tahap ini akan ada konflik antara ego, super-ego dan id. Intinya adalah mencoba mencari titik keseimbangan jiwa melalui meditasi, dzikir, sholat, sembahyang dan berbagai macam ibadah lainnya. Ketika kondisi jiwa terlalu tenang, geser ke tengah (normal), dan saat kondisi jiwa terlalu kacau, geser ke tengah (normal).

Di tahap ini, kita perlu menyadari bahwa segala sesuatu tidak kekal, fana dan dapat hilang atau hancur seiring dengan berjalannya waktu. Kebahagiaan tidak kekal, kegalauan tidak kekal. Pujian tidak kekal, hinaan tidak kekal. Keberhasilan tidak kekal, kegagalan tidak kekal. Dan seterusnya..

Saat kita mulai menyadari bahwa segala sesuatu tidak kekal, maka Tarik-menarik dengan sapi semakin sedikit.. kenapa ada Tarik menarik dengan sapi ? Karena kita bersikeras semua hal harus sesuai dengan keinginan kita, bahagia datang, kita ingin ikat kebahagiaan itu. Tapi karena bahagia itu tidak kekal, tatkala bahagia pergi kita sedih. Kegalauan pun sama, begitu datang, kita ingin galau pergi cepat-cepat, pokoknya tidak mau galau. Akhirnya menderita 😉

5. Sapi dan kita mulai bersahabat

Ketika kita mulai menyadari dan memahami segala sesuatu tidak kekal, maka kita mulai bersahabat dengan pikiran. Di tahap ini, kita menyadari dalam-dalam bahwa semua hal tidak kekal, segala sesuatu tidak kekal..

Di langit selalu ada cahaya matahari, namun kadang ada awan penghalang. Nah, langit pikiran kita pun sama seperti itu. Kita tidak sadar bahwa ada selalu cahaya pikiran karena awan bahagia dan awan galau menghalangi cahaya itu.. Di tahap ini, kita tidak lagi menjadi awan putih atau gelap. Tapi kita mulai menjadi langit biru yang luas dan selalu berlimpah cahaya.

6. Mengendarai sapi pikiran pulang ke rumah

Di tahap ini, kita sudah menjadikan sapi pikiran sebagai kendaraan untuk pulang ke rumah sejati. Tanda kita sudah sampai di tahap ini adalah kita sudah mulai dapat menikmati berbagai kondisi dalam hidup. Pikiran sudah tunduk kepada kita sebagai tuannya. Bukan sebaliknya, kita diperbudak oleh pikiran.

Kita sudah menjadi pribadi yang tenang karena kita telah menjadi tuan bagi diri kita sendiri. Gelar orang yang sudah sampai disini bergelar S3 (Senyum Senyum Saja). Di tahap ini, ada efek terhadap daya tubuh yang membaik sehingga banyak orang yang dapat disembuhkan dari penyakitnya. Daniel Goldman, meneliti bahwa meditasi dapat menyembuhkan karena ketenangan yang ada pada meditasi membuat daya tahan tubuh meningkat.

Seorang biksu yang diperiksa dengan alat MRI, diteliti saat meditasi dan tidak meditasi. Dari hasil tes membuktikan bahwa meditasi membuat otot-otot otak menjadi rileks, sedangkan kondisi tidak meditasi membuat otot-otot otak menjadi tegang.

7. Kita sudah hampir sampai di rumah

Sapi pikiran sudah hilang. Kita sudah sampai di rumah. Saat sampai di rumah, pekerjaan yang paling indah adalah berdoa. Kita tidak membutuhkan pikiran lagi, karena kita sudah sampai di rumah. Di tahap inilah orang sudah menemukan Tuhan. Di tahap ini, orang berdoa bukan untuk mendapatkan apapun melainkan berdoa adalah bagian dari gerak kehidupan itu sendiri.

8. Bulan purnama

Menyatu dengan bulan purnama. Tidak ada awal, tidak ada akhir, adalah tahap akhir dari meditasi bulan purnama. Orang biasa pikirannya sangat dualistik, ada benar-salah, baik-buruk, berhasil-gagal. Namun saat sudah sampai bulan purnama, maka tidak ada benar-salah, baik-buruk, berhasil-gagal. Baiknya untuk sampai ke tahap ini ada guru yang mendampingi biar tidak salah persepsi.

Kita mulai melihat bahwa segala sesuatunya adalah satu, tidak ada awal, tidak ada akhir, tidak ada dualistik. Semua hal adalah sama, semua hal adalah baik adanya. Apapun yang terjadi dalam hidup, itu baik. Everything is good 😉

Agak sedikit di luar konteks dari ceramah Pak Gede Prama. Bentuk bulan purnama sebenarnya, dialami saat sholat. Tatkala kita sholat, sebenarnya kita sedang membentuk 360 derajat. Mulai dari takbir di awal sholat hingga akhir sholat. Sayangnya, saya sendiri dan mungkin banyak orang islam yang belum memahami hakikat sholat itu sendiri.

Di tahap ini, keheningan dan kedamaian adalah tanda bagi seseorang yang sudah sampai di tahap bulan purnama. Kesempurnaan lingkaran bulan purnama adalah arti bahwa segala hal dalam hidup ini adalah sempurna. Sukacita dan dukacita adalah satu hal yang sama, bahagia dan galau adalah satu hal yang sama, hidup dan mati adalah satu hal yang sama.

Salah satu analogi yang menarik adalah cerita yang diberikan oleh Osho tentang sekolah hutan. Para binatang di hutan membuat sekolah. Ikan adalah guru berenang, burung adalah guru terbang, singa adalah guru lari, gajah adalah guru kuat. Jadi masing-masing binatang belajar, burung belajar berenang, singa belajar terbang, ikan belajar lari. Namun setelah 10 tahun, semua binatang kelelahan. Ikan tetap jago berenang, singa tetap jago berlari, gajah tetap paling kuat, dan burung tetap jago terbang.

Intinya adalah semua sudah sempurna apa adanya 😉

9. Bulan purnama dimana-mana

Di tahap ini, kita sudah melihat bulan purnama dimana-mana. Kita dapat melihat kesempurnaan dalam segala hal. Ada banyak rahasia di sini. 😉

10. Kembali ke dunia

Kita kembali ke aktivitas sehari-hari tanpa ada perubahan sedikitpun. Tak perlu mengganti baju luar, cukup mengganti baju yang ada di dalam. Kita perlu menyempurnakan pelayanan kita dalam kehidupan sesuai dengan profesi kita masing-masing. Jadi pegawai yang melayani, jadi guru yang melayani, jadi pelajar yang melayani, jadi pengusaha yang melayani 😉

11. Rahasia

Di tahap ini rahasia menurut Pak Gede Prama 😉